Owh it’s hard to be a woman!
Mmmm..ralat, it’s hard to be an ordinary woman!
Jadi, begini ceritanya. Dulu, sebelum aku mengenal dunia sales (yang diclaim laki-laki sebagai dunia mereka) aku tidak pernah tau bahwa menjadi seorang SPG (Sales Promotion Girl) ternyata sangat berat. Dulu, yang aku tau, mereka hanyalah sekumpulan pramuniaga genit dengan riasan tebal dan mencolok. Sehingga, banyak orang yang menilai negatif pada mereka. Mungkin ada yang benar, tapi pasti ada juga yang nggak benar. Yang jelas sekarang aku tau,
they have to be like that! Mereka harus luwes, dan harus ber
make up! Dan disinilah susahnya menjadi seorang perempuan.
Dimulai dari tahap pertama, melamar pekerjaan sebagai SPG. Hal pertama yang ditanyakan seorang
decision maker pada saat akan menerima seorang SPG yang melamar pekerjaan adalah “Bagus nggak?” Mungkin arti bagus disini adalah Standar Nasional Indonesia: “kulit putih, tinggi cukup, tidak gemuk”. Jadi untuk yang tidak memenuhi standar, silahkan keluar. Bahkan bagi mereka yang lulus penampilan fisik pun belum tentu dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, karena beberapa outlet modern malah memberlakukan persyaratan yang lebih ketat lagi, seperti penerapan syarat tinggi badan minimal. Untuk yang tinggi badannya di bawah UMR, tidak bisa masuk (mirip syarat masuk wahana tertentu di Dufan ya?). Setelah pandangan pertama cukup memuaskan, dilanjutkan ke tahap berikutnya. “Berapa umurnya?” Jadi maaf, untuk para ABG taun 90-an seperti aku, kesempatan sudah tertutup. Ini hanya untuk ABG 2000-an. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah “Masih
single nggak?” (
Single aja, bukan
single mom). Mungkin agar penghasilan dari pekerjaan ini bisa digunakan untuk membeli
make up yang memadai bagi para gadis muda itu, bukan untuk para istri yang membantu suami, atau bagi para single mom yang ingin membeli susu untuk anaknya. Akibatnya, banyak para perempuan muda yang telah menikah atau seorang single mom yang sangat membutuhkan pekerjaan, berbohong mengenai statusnya ini. Dan tentu saja, saat kebohongan itu terbongkar, mereka akan diberhentikan.
Nah, setelah urusan administrasi selesai, si calon SPG akan di tes apakah ia cukup mampu atau cukup luwes berbicara dengan calon konsumen. Seseorang yang telah berpengalaman dibidang ini mungkin akan dengan mudah melewati tahap ini. Tapi, bagi mereka yang baru pertama kali melamar pekerjaan di posisi ini, sesupel atau seluwes apapun mereka, belum tentu bisa menggaet pelanggan. Namun rupanya si penilai atau si pewawancara tidak begitu berniat mengajari atau mendidik si calon SPG, karena begitu dia terlihat kaku dalam tes menawarkan barang, maka si penilai akan menuliskan kata “jelek” atau "kaku" dalam catatannya.
Huft….seleksi yang melelahkan ya? Setelah resmi diterima menjadi karyawan, maka si SPG akan menerima jadwal pekerjaannya : berdiri selama delapan jam sehari dan tidak boleh libur
on the week end! Sebuah pekerjaan yang akan selalu aku hindari. Walaupun lelah berdiri seharian, mereka harus tetap tersenyum dan menjaga agar riasan mereka tidak luntur. Ini dilakukan dengan alasan konsumen menyukai perempuan2 cantik. Mengabaikan fakta bahwa sebagian konsumen yang belanja di mall atau di toko adalah perempuan juga (bahkan aku yakin 90% konsumen dari perusahaan tempatku bekerja adalah perempuan). Yah, memang begitu peraturannya, mereka harus selalu canti dan segar. Tapi, ho..ho..ho… ternyata cantik saja tidak cukup. Mereka juga harus pintar, karena pada saat mereka tidak becus kerja, atau tidak bisa memuaskan atasannya, si cantik pun ditendang juga.
Pertanyaannya, harus seberapa pintarkah mereka? Karena, logikanya, jika seseorang sangat cantik, atau sangat pintar, atau sangat cantik dan sangat pintar, mungkin dia akan dapat sesuatu yang lebih baik daripada bekerja bersusah payah sebagai SPG. Biasanya, para SPG ini hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Mereka adalah pekerja, bukan perencana. Mereka melaksanakan, bukan mengatur. Mereka berjualan, bukan berpikir masalah strategi. Jadi, jika mereka tidak becus kerja, pertanyaannya adalah : dimana atasan mereka yang seharusnya mengawasi pekerjaan mereka? SPG adalah ujung tombak.
They sale, no matter how. Jadi bila ia melakukan kesalahan, seharusnya si atasan mengevaluasi sistem kerja secara keseluruhan, termasuk cara kerjanya sendiri. Karena dialah yang berpikir, si bawahan yang malang hanya mengerjakan.
But, hey who’s the boss?? The boss is always right!
Bukan hanya masalah profesionalitas yang dihadapi para SPG. Ketika seseorang di lingkungan pekerjaannya mulai mempersalahkan rasa
like or dislike, itu akan menjadi titik-titik yang sangat rawan. Dia bisa dikeluarkan hanya karena satu kesalahan yang sangat kecil, seperti “etikanya nggak bagus, nggak anggun!” Padahal itu sesuatu hal yang sangat wajar dan manusiawi, karena di lamaran kerjanya jelas-jelas terlampir foto copy ijasah SMA nya, bukan ijasah sekolah kepribadian. Tergantung bagaimana cara dia dididik dan ditempa oleh trainernya menjadi seseorang yang diinginkan oleh perusahaan.
But once again, who’s the boss? Kalo boss sudah ilfil, maka siap-siap saja cari pekerjaan baru. Dan bahkan setelah mereka diberhentikan, mereka diminta (atau disuruh) membuat surat pengunduran diri, seperti pemberhentian itu memang adalah keinginan dirinya sendiri. O emji! (Hal ini jadi mengingatkan aku, bahwa jika ada yang menilai aku secara tidak objektif di lingkungan pekerjaanku dan menginginkan aku untuk menyingkir, maka dengan suka rela aku akan menunggu surat pemecatan dari perusahaan, dari pada harus menyerahkan surat pengunduran diri!)
Di level jabatan yang lebih tinggi, misalnya sekelas manajer, mungkin this “
woman stuff” (cantik, anggun, dandan, dsb) tidak terlalu menjadi masalah. Karena jika seorang perempuan menjadi manajer berarti dia telah mampu menghadapi tahapan-tahapan berat sebelumnya. Dan dia akan bisa mengatasi kesulitan-kesulitan setelahnya. Dan dia bisa melawan, menuntut, atau mencegah diskriminasi yang terjadi padanya. Karena aku yakin, seorang manajer tau benar hak-haknya sebagai seorang karyawan. Tetapi tetap saja, si manajer ini, kalo dia nggak pinter sekali, maka dia cantik sekali, atau bahkan dua-duanya. Sedangkan untuk level sekelas SPG, yang rata-rata pendidikan hanya SMA dengan prestasi yang biasa-biasa saja, hal ini sangat berat. Coba pikir, jarang sekali seorang laki-laki yang melamar pekerjaan dinilai “bagus nggak?” oleh calon atasannya. Lalu ditanya “masih single nggak”? Mungkin penampilan dan bahasa tubuh calon karyawan laki-laki menjadi penilaian penting, tapi apakah dia gendut, ceking, pendek, tinggi, hitam, putih, tidaklah masalah (tidak ada pertimbangan bahwa mata perempuan pun ingin pemandangan yang enak dilihat!) Lain halnya dengan seorang perempuan yang ingin bertahan di dunia kerja, apakah level SPG atau manajer. Dia harus menjadi seorang
superwoman : cantik, pintar, anggun, kuat dan pekerja keras. Ck..ck..padahal bagi laki-laki, menjadi
superman sangatlah mudah : tinggal pakai CD merah di luar celana panjangnya (hahaha…ngaco.com!).
Bahkan ada ungkapan bagi para perempuan : jika kamu cantik, maka 50% kesulitanmu di dunia akan teratasi. Jika kamu pintar, maka 70% kesulitanmu di dunia akan teratasi. Jika kamu cantik dan pintar maka 90% kesulitanmu di dunia akan teratasi. Jika kamu tidak pintar dan tidak cantik, maka bersiap-siaplah menghadapi kejamnya dunia.
 |
| what a super girl : pretty, smart, success.... ^^ |
Jadi, susah bukan menjadi perempuan? Maksudku, susah bukan jadi perempuan yang biasa-biasa aja? Bagi aku, yang tidak terlalu cantik dan tidak terlalu pintar (tapi manis, periang, baik hati dan ngangenin banget) adalah suatu keberuntungan bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Dan dengan bayaran yang sesuai dengan pekerjaanku.
Well.. it’s just another reason to thank God for all the things I’ve got, I guess.
♥ ♥