Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di tingkat I atau tingkat II kuliah (lupa tepatnya), kampusku di kawasan Dramaga, Bogor, kedatangan seorang tamu, mahasiswi cantik dari Negeri Jiran. Namanya Nurul Izzah Anwar. Dia adalah putri dari mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.
Nurul Izzah Anwar lahir pada tanggal 19 November 1980. Perpaduan dari dua orang dengan intelektualitas yang cemerlang : Anwar Ibrahim dan istrinya, Wan Azizah Wan Ismail. Izzah bersekolah di Sekolah Menengah Sri Hartamas dan Sekolah Menengah Assunta, KL. Lalu kuliah di Universiti Teknologi Petronas, kemudian pindah ke Universiti Tenaga Nasional di Bangi, Jurusan Elektrik. Tapi S2 yang diambilnya di John Hopkins University, Washington malah jurusan hubungan internasional....Nah, waktu berkunjung ke IPB, Izzah baru tingkat II kayanya, karena dia setingkat lebih tua dari aku. Tampil bersahaja dengan baju muslim dan senyum yang manis, Izzah bercerita kepada kami mengenai kehidupannya dan keluarganya. Kalau tidak salah, salah satu tujuan Izzah datang ke kampus waktu itu adalah untuk mencari dukungan untuk ayahnya, yang ditendang dari dunia politik dan ditangkap oleh pemerintah Malaysia atas tuduhan pelecehan seksual.
Dengan mata berkaca-kaca, kami mendengarkan penuturan Izzah tentang bagaimana ayahnya ditangkap dengan paksa dari rumah mereka dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1998. Walaupun tuduhannya adalah pelecehan seksual, namun semua orang mahfum bahwa itu adalah konspirasi politik yang kejam, akibat perselisihannya dengan Perdana Menteri yang berkuasa waktu itu, Mahatir Mohammad. Izzah bercerita bagaimana ia dan keluarganya harus menerima tekanan dari banyak pihak, terutama dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Izzah belia yang merupakan anak pertama berusaha untuk tetap tenang dan tampil tegar dihadapan Ibu dan adik-adiknya. Bahkan hal ini membuat Izzah harus menunda kuliahnya untuk sementara waktu.
![]() |
| Nurul Izzah Anwar |
Kejadian itu membuat Izzah akhirnya terjun ke dunia politik dengan aktif menyuarakan reformasi bersama ibunya, Wan Azizah Wan Ismail. Izzah dinilai oleh banyak kalangan sebagai harapan untuk memperjuangkan keadilan bagi ayahnya. Setelah beberapa tahun berlalu dari hari itu, aku mendengar kembali pemberitaan tentang Izzah, si Putri Reformasi, yang telah memenangi kursi parlemen di Malaysia sebagai wakil dari Partai Keadilan rakyat dalam pemilu 2008, sekaligus menjadi anggota parlemen termuda tahun tersebut. Wajahnya sering kali muncul dalam siaran berita CNN dan BBC dalam kurun waktu 10 tahun tersebut. Waktu itu usianya baru 28 tahun dan Izzah baru saja melahirkan anak perempuannya, Nur Safiyah.
Sekarang ini, karir politik Izzah semakin berkibar. Selain aktif di Partai Keadilan rakyat dan sebagai anggota parlemen Malaysia, ia juga aktif Global Health Watch sebagai relawan, dan menjadi anggota Forum Antarbudaya Pemimpin Wanita yang bermarkas di New York. Walaupun demikian, Izzah tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu (sekarang anaknya sudah dua, Nur Safiyah dan Raja Ahmad Harith). Untuk menyeimbangkan peran gandanya tersebut, tak jarang Izzah membawa anaknya ketika bekerja. Sesuatu yang bisa dibilang merupakan budaya baru di Malaysia (bahkan mungkin di Indonesia juga). Tak semua pihak bisa menerima keputusannya seperti itu. Namun Izzah tak gentar, ia yakin, lama kelamaan rakyat di bawah konstituennya akan memahami bahwa sebagai perempuan, ia juga memiliki tanggung jawab lain, yaitu sebagai istri dan sebagai ibu.
![]() |
| Beautiful and brilliant young woman.. |
Two thumbs up for you, Nurul Izzah. You are so amazing !!
Nurul Izzah on facebook : Nurul Izzah Anwar
Nurul Izzah on twtter : @n_izzah
(nesia.wordpress.com, kompas.com)









