Jumat, 30 September 2011

Inspiring 30 II : Nurul Izzah Anwar

Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di tingkat I atau tingkat II kuliah (lupa tepatnya), kampusku di kawasan Dramaga, Bogor, kedatangan seorang tamu,  mahasiswi cantik dari Negeri Jiran. Namanya Nurul Izzah Anwar. Dia adalah putri dari mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.

Nurul Izzah Anwar lahir pada tanggal 19 November 1980. Perpaduan dari dua orang dengan intelektualitas yang cemerlang : Anwar Ibrahim  dan istrinya, Wan Azizah Wan Ismail.  Izzah bersekolah di Sekolah Menengah Sri Hartamas dan Sekolah Menengah Assunta, KL. Lalu kuliah di Universiti Teknologi Petronas, kemudian pindah ke Universiti Tenaga Nasional di Bangi, Jurusan Elektrik. Tapi S2 yang diambilnya di John Hopkins University, Washington malah jurusan hubungan internasional....Nah, waktu berkunjung ke IPB, Izzah baru tingkat II kayanya, karena dia setingkat lebih tua dari aku. Tampil bersahaja dengan baju muslim dan senyum yang manis, Izzah bercerita kepada kami mengenai kehidupannya dan keluarganya. Kalau tidak salah, salah satu tujuan Izzah datang ke kampus waktu itu adalah untuk mencari dukungan untuk ayahnya, yang ditendang dari dunia politik dan ditangkap oleh pemerintah Malaysia atas tuduhan pelecehan seksual.

Dengan mata berkaca-kaca, kami mendengarkan penuturan Izzah tentang bagaimana ayahnya ditangkap dengan paksa dari rumah mereka dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1998. Walaupun tuduhannya adalah pelecehan seksual, namun semua orang mahfum bahwa itu adalah konspirasi politik yang kejam, akibat perselisihannya dengan Perdana Menteri yang berkuasa waktu itu, Mahatir Mohammad. Izzah bercerita bagaimana ia dan keluarganya harus menerima tekanan dari banyak pihak, terutama dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Izzah belia yang merupakan anak pertama berusaha untuk tetap tenang dan tampil tegar dihadapan Ibu dan adik-adiknya. Bahkan hal ini membuat Izzah harus menunda kuliahnya untuk sementara waktu.

Nurul Izzah Anwar

Kejadian itu membuat Izzah akhirnya terjun ke dunia politik dengan aktif menyuarakan reformasi bersama ibunya, Wan Azizah Wan Ismail. Izzah dinilai oleh banyak kalangan sebagai harapan untuk memperjuangkan keadilan bagi ayahnya. Setelah beberapa tahun berlalu dari hari itu, aku mendengar kembali pemberitaan tentang Izzah, si Putri Reformasi, yang telah memenangi kursi parlemen di Malaysia sebagai wakil dari Partai Keadilan rakyat dalam pemilu 2008, sekaligus menjadi anggota parlemen termuda tahun tersebut.  Wajahnya sering kali muncul dalam siaran berita CNN dan BBC dalam kurun waktu 10 tahun tersebut. Waktu itu usianya baru 28 tahun dan Izzah baru saja melahirkan anak perempuannya, Nur Safiyah.

Sekarang ini, karir politik Izzah semakin berkibar. Selain aktif di Partai Keadilan rakyat dan sebagai anggota parlemen Malaysia, ia juga aktif Global Health Watch sebagai relawan, dan menjadi anggota Forum Antarbudaya Pemimpin Wanita yang bermarkas di New York. Walaupun demikian, Izzah tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu (sekarang anaknya sudah dua, Nur Safiyah dan Raja Ahmad Harith). Untuk menyeimbangkan peran gandanya tersebut, tak jarang Izzah membawa anaknya ketika bekerja. Sesuatu yang bisa dibilang merupakan budaya baru di Malaysia (bahkan mungkin di Indonesia juga). Tak semua pihak bisa menerima keputusannya seperti itu. Namun Izzah tak gentar, ia yakin, lama kelamaan rakyat di bawah konstituennya akan memahami bahwa sebagai perempuan, ia  juga memiliki tanggung jawab lain, yaitu sebagai istri dan sebagai ibu. 


Beautiful and brilliant young woman..

Two thumbs up for you, Nurul Izzah. You are so amazing !!

Nurul Izzah on facebook : Nurul Izzah Anwar
Nurul Izzah on twtter : @n_izzah


(nesia.wordpress.com, kompas.com)


Kamis, 29 September 2011

Sebuah Renungan di Hari Jumat

Sewaktu memutuskan untuk menghapus email-email  yang telah lama berjejal memenuhi inbox-ku pagi ini, mau tak mau aku membaca ulang banyak email yang telah lama aku lupakan. Dari para teman, sahabat, dan orang -orang yang special. Berita duka, bahagia, gosip...dan hal-hal nggak penting yang membuat aku senyum-senyum sendiri di depan komputer. 

Ternyata selama ini, aku punya banyak sekali teman, orang-orang yang peduli padaku, yang sayang padaku. Aku telah begitu banyak melewati hari-hari indah yang bahagia, hari-hari yang membuat hati begitu berbunga-bunga. Juga aku telah berhasil menghadapi hari-hari terburuk yang pernah aku rasakan, masa-masa tersulit yang dulu aku pikir aku tidak akan pernah bisa melewatinya. Dan menghadapi itu semua, aku tidak pernah sendirian...

Banyak penyesalan yang menumpuk dalam hatiku. Kemana perginya semua itu? Ada yang hilang, ada yang tinggal. Sebagian pergi karena keinginannya untuk meninggalkanku, sebagian hilang karena telah aku tinggalkan. Hati tak pernah bisa berhenti bertanya-tanya, mengapa aku begitu menyia-nyiakan mereka yang benar-benar peduli padaku? Dan hati tak pernah bisa berhenti mengucap kata maaf kepada mereka yang pernah tersakiti, karena hingga hari ini aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaanku itu. Mungkin semua ini hanyalah kebodohanku yang tidak pernah bisa berfikir. Jadi ini semua tentang aku.

Tapi aku tak kan pernah mau tenggelam dalam penyesalan. Everybody makes mistakes, that's why pencil has eraser. My past is to be learned, my present is to be lived, my future is to be prepared, and my dreams is to be reached.  Yang harus kulakukan adalah mengintrospeksi diriku dan berusaha menjadi lebih baik. Aku percaya, segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin-Nya. Kuncup akan menjadi bunga, ulat akan menjadi kupu-kupu. Segala sesuatu akan menjadi indah bila telah tiba waktunya. Dan aku tidak mau terlalu sibuk mempertanyakan dan berusaha membuka kembali pintu-pintu yang telah tertutup dibelakangku, sehingga tidak melihat pintu-pintu lain telah terbuka dihadapanku. Jadi aku akan terus melangkah.



As I always believe :

I am the master of my fate
I am the captain of my soul



Rabu, 28 September 2011

Thank You

You're fool
I truly thank you
You’re true to me and
Gave me everything
You’re an angel
You must be tired and find it hard
To everlastingly believe in someone
Who is a nobody

Strange, it’s like you’re devoid of tears
You smile for me in illness
When I’m next to you

I cry tears of happiness
Words are stuck in my throat
I truly love you
My love for you, which I cannot express
I can finally tell you
I go on because of you

Strange, it’s like you’re devoid of tears
You smile for me in illness
When I’m next to you

I’m feeling very happy
Your smile
Shines on me
A long time from now, when the world ends
Remember, Do not forget
I’m always with you

I cry tears of happiness
Words are stuck in my throat
I truly love you
My love for you, which I cannot express
I can finally tell you
I go on because of you

(HUN)

It's taken from one of my favourite Korean Drama, Thank You. It is such an amazing story. About love, life, family, friendship, and humanity. It's very touching, funny, and trully romantic! Maybe I'll write the review in this blog. Just wait ^^

Thank you for teaching me what a beautiful world this is!

Selasa, 27 September 2011

Inspiring 30 I : Jonathan Favreau

Ini episode pertama dari serial Inspiring Person :D

Namanya Jonathan Favreau. Lahir di Massachussetts, 2 Juni 1981.

Jonathan Favreau


Siapa gerangan pemuda ganteng ini?? Ternyata dia adalah Director of Speechwrting for President Barrack Obama. Dibalik pidato-pidato Obama yang selalu memukau, ternyata Favs (panggilan Jon Favreau) lah yang menyiapkan semuanya. Termasuk pidato yang dibacakan Obama waktu di UI beberapa bulan lalu, loh...
Setelah menamatkan kuliahnya di College of Holly Cross, Massachussetts, pada usia 23 tahun, dan menyandang predikat lulusan terbaik, Favs langsung bekerja pada calon Presiden dari Partai Demokrat, John Kerry. Kedatangannya di tim sukses John Kerry pada usia yang masih dianggap "anak-anak" itu mengundang banyak pertanyaan anggota tim yang lain. Namun kepiawaiannya menyusun kata-kata mebuat partai itu benar-benar jatuh cinta padanya. 

Petinggi Partai Demokrat yang kini menjabat sebagai Sekretaris gedung Putih lalu merekomendasikan Favs pada Barrack Obama untuk kampanye senatnya. Berlanjut kemudian pada kampanye Presiden 2008. Bahkan ternyata, slogan kampanye Obama yang sederhana namun sangat mendunia, "Yes We Can", adalah buah pemikiran Favs. Mmmm...tak heran Obama sangat mempercayai Favs dan meberikan otoritas penuh padanya atas kata-kata yang diucapkannya. Dan ketika Obama dilantik sebagai Presiden AS yang ke-44 pada bulan Januari 2009 lalu, maka Favs pun secara resmi menjadi penulis pidato presiden termuda di usia 27 tahun. Dan dia juga mendapat ruang kerja sendiri di West Wing Gedung Putih, dan memimpin tim penulis pidato yang terdiri dari penulis-penulis senior. Keren banget, ya?

Favs and Obama


So, that's Jonathan Favreau. He's brilliant, he's success, he's famous and good looking :D And he's 30.




Bitter Heart



Sunrise falls down, I've seen when it hit the ground
Children spinning around
'till they fall down down down
I wait for you, it's been two hours now
You're still somewhere in town
Your dinner's getting cold
I raise my case you are always this late
And you know how much I hate
Waiting around round round

Bitter heart, bitter heart, try to keep it all inside
Bitter heart, bitter heart, shadows will help you try to hide
Bitter heart, my bitter heart, is getting just a little fragile
Bitter heart, biteer heart of mine...

And then you come
And tell me the same reason
As you did yesterday
So tell me what's her name???


(Zee Avi)

Murder on The Dance Floor

Boseeeeennnnn....banget siang ini. Amaya menguap. Kantornya sepi banget, kerjaan banyak, badannya pegel-pegel....Pengennya  pasang musik Sophie Ellis Bextor yang kenceng, trus loncat-loncat, atau joget-joget kaku ala manekin cantik.

"Go..go..go..go..go..
I'll get over you
You drive me crazy up the wall
Think you Mr. know it all.."



 Lagu-lagu si cantik ini emang paling bisa deh bangkitin mood! Coba aja denger : Take Me Home, And This Ain't Love, atau Murder on The Dance Floor. Yang satu itu, Amaya paling suka video clipnya. Ceritanya tentang lomba dance, dan Sophie dan pasangannya jadi salah satu peserta lomba itu. Tapi Sophie dan pasangannya ternyata nggak cukup pede buat menangin lomba. Jadi mereka berbuat curang dan melakukan berbagai cara buat menyingkirkan para pesaing mereka. So, it looks like the moral message of the video is : if you cheat, you win, hahaha...

Amaya termangu. Mungkin sebenernya, seperti itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari di lingkungannya. Khususnya di lingkungan pekerjaan. Suasana persaingan yang panas, ditambah gesekan-gesekan antar sesama karyawan, membuat udara semakin gerah, napas semakin tercekik, dan bekerja menjadi tidak nyaman.

Terkadang seseorang berusaha membuat dirinya terlihat bagus di mata atasannya dengan cara menjatuhkan orang lain, sehingga dia tampak lebih tinggi dan lebih pintar.Orang yang kurang percaya diri akan berusaha mencari sekutu sebanyak-banyaknya, agar ia mendapat banyak suara pembenaran atas kesalahan yang suatu hari mungkin akan dilakukannya. Sebaliknya, orang dengan kepercayaan diri yang tinggi akan terus berlari dan tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Tidak peduli pada timnya, tidak peduli pada anak buahnya, tidak peduli terhadap apapun kecuali dirinya sendiri.

Di kalangan karyawan perempuan rasanya lebih parah. Selain sikut menyikut, para karyawan perempuan juga biasanya dilengkapi dengan beberapa senjata lainnya seperti : tampang manis untuk menjilat, tampang simpati untuk berpura-pura sedih ketika teman melakukan kesalahan, air mata buaya untuk meyakinkan atasan bahwa dia adalah seorang yang working mother yang sangat membutuhkan pekerjaan dan tidak pantas menerima mutasi atau pemecatan. Jangan lupa bisikan-bisikan halus terhadap sesama rekan kerja untuk membantu menyingkirkan rintangan-rintangan kecil yang menghalangi kemulusan karier.

Amaya jadi senyum-senyum sendiri.  It's a murder on the dance floor, too! Jangan salah sangka, Amaya memang tidak pernah membunuh orang. Dia hanya berbuat lebih dari yang seharusnya dia lakukan untuk memuluskan jalannya dan memantapkannya pada zona nyaman di kantornya. Lagi pula, siapa yang nggak pernah? Siapa yang tidak pernah tersenyum kegirangan (walaupun dalam hati) saat pesaing kita tersingkir, entah dengan jalan yang  fair ataupun curang? Siapa yang tidak pernah melebih-lebihkan gosip? Siapa yang tidak pernah menghindar ketika teman butuh bantuan menyelesaikan pekerjaannya? Siapa yang tidak senang ketika bos yang kita benci kena batunya? atau dibantai atasannya? Dan seperti biasa Amaya mulai mencari-cari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya, untuk menenangkan pergulatan hatinya.

"Ah, semua orang juga melakukan itu kok : munafik. Asal gak ketauan, toh gak akan ada yang tersakiti..."

Seperti Sophie Ellis Bextor dan pasangannya, yang akhirnya menjadi juara dance competition itu...

Mengamati situasi dan menyusun strategi.. :P

Akhirnya jadi juaraaa...!!

Senin, 26 September 2011

The Kite Runner, part 1

Sebuah Resensi

Ini adalalah salah satu buku favoritku. The Kite Runner, oleh Khaled Hosseini. Ceritanya tentang dua orang anak Afghanistan yang menjalin persahabatan, namun ternyata begitu banyak pengkhianatan yang harus memisahkan mereka : kasta, pengorbanan, perang, Taliban, dan yang terutama adalah penghianatan dari dalam dirinya sendiri. It is sooooo.... touching!
Pengan coba bikin resensinya, tapi pasti panjang banget. Jadi bersambung-sambung aja :D

And here comes the part one.

The Kite Runner, Part 1





Afghanistan, 1975

Amir dan Hasan adalah dua orang anak Afghanistan yang sangat berbeda.  Perbedaan mereka seperti langit dan bumi. Amir bangsawan Pasthun, penganut Islam Sunni  yang hidup bergelimang harta dan tinggal di rumah yang mewah. Ibunya, Sofia, adalah sosok wanita agung, yang rela mengorbakan jiwanya pada saat ia melahirkan Amir ke dunia. Sedangkan ayahnya,yang ia panggil Baba, seorang  pengusaha terkenal dan dihormati di seluruh negeri. Orang-orang memanggilnya dengan nama Tophan Agha (artinya Tuan Topan), simbol kehormatan dari kehebatannya. Amir seorang anak yang tampan, pintar, lembut, dan rela melakukan apapun demi mendapatkan kasih sayang dari sang ayah yang selalu merasa tidak puas kepada dirinya. 

Sedangkan Hasan, berasal dari suku Hazzara yang dianggap hina, , penganut Islam Syiah hidup seadanya di sebuah pondok tanah liat di pekarangan belakang rumah Amir. Ibunya, Sanaubar, sangat membencinya sehingga dengan tanpa perasaan ia pergi meninggalkan Hasan yang belum berusia      6 hari. Ayahnya bernama Ali, seorang pelayan yang mengalami kelumpuhan otot wajah bagian bawah sehingga tidak pernah bisa tersenyum. Kaki kanannya terpilin dan mengecil akibat polio, yang menyebabkan ia berjalan pincang. Orang-orang memanggilnya dengan nama Babalu (artinya hantu), simbol penghinaan bagi keburukrupaannya. Hasan seorang anak yang bermata sipit, bertelinga rendah, dan berbibir sumbing.Tapi ia pemberani, penyayang, dan rela melakukan apa saja demi melindungi Amir. 

Walaupun mereka berbeda, Amir dan Hasan tak terpisahkan. Mereka selalu bersama, bermain layang-layang, membaca, mendaki bukit. Karena sama-sama ditinggalkan ibu kandungnya sewaktu merka masih bayi, mereka bahkan menyusu pada ibu susuan yang sama. Bagi Hasan, Amir adalah sahabatnya, saudaranya, belahan jiwanya. Hasan menjadi orang yang sangat bisa diandalkan bagi Amir. Akan tetapi bagi Amir, Hasan adalah pelindungnya, pelayannya, pengejar layang-layangnya. Hasan tidak pernah mengatakan “tidak” pada Amir. Bahkan jika Amir menyuruhnya makan tanah, Hasan akan melakukannya. Jika Amir mengalahkan sebuah layang-layang pada sebuah turnamen ataupun hanya permaninan, maka Hasan akan berlari secepat kilat untuk mengejar layang-layang itu, untuk kemudian ia persembahkan kepada Amir, sebagai trofi bagi kemenangannya. Hasan tidak pernah menolak Amir, apapun yang Amir minta, Hasan akan menyunggingkan senyum tebaiknya, mengangkat kedua jempolnya, dan berkata , “Untukmu, keseribu kalinya..”

Amir adalah seorang anak yang tidak pernah bersentuhan dengan kekerasan. Ia menyukai keheningan, buku, dan puisi. Hal ini membuat Baba, sang ayah yang pernah mengalahkan tiga ekor beruang gunung, memendam kekecewaan terhadap Amir. Bahkan jika ada anak-anak lain yang menganggu dirinya, maka Hasan lah yang akan maju menghadapinya.  Suatu hari pada saat mereka tengah bermain bersama, Amir dan Hasan bertemu dengan Assef dan teman-temannya. Assef adalah seorang keturunan Afghan-Jerman. Tubuhnya jauh lebih tinggi daripada anak-anak yang lain. Rambutnya pirang dan matanya biru. Seorang sociopath kecil yang ditakuti oleh teman-temannya.  Ia dijuluki “Assef si Pelahap Telinga”, dan itu bukan tanpa alasan. Ia pernah mengigit putus telinga seorang anak yang mengalahkannya dalam adu layang-layang.
Amir dan Hasan ketakutan bertemu dengan Assef dan kelompok kecilnya. Assef menunjuk Hasan dengan dagunya. 

“Hei, Pesek, bagaimana kabar Babalu?” Tanya Assef.
“Biarkan kami pergi, Assef, kami tidak menganggumu.” Amir menjawab gemetar.  

Assef menyeringai dan mengambil sesuatu dari saku belakang celananya yang membuat Amir dan Hasan semakin ciut : pelindung buku jari dari baja. Assef berkata bahwa ia terganggu oleh kehadiran Amir dan Hasan. Karena Hasan adalah seorang Hazzara yang hina, dan karena Amir selalu bersamanya. Amir mundur ketakutan ketika Assef mengambil langkah untuk meyerangnya. Tetapi Hasan melangkah dengan berani ke hadapan Assef dengan ketapel terpasang ditangannya. Sebuah batu sebesar biji kenari siap dibidikan ke wajah Assef. 

“ Tolong tinggalkan kami, Agha,” Hasan berkata dengan sopan kepada Assef. Hasan selalu memanggil orang lain dengan sebutan Agha (tuan) yang menandakan bahwa ia berada pada kasta yang terendah. Assef tertawa mengancam, tetapi Hasan membidikan ketapelnya mengikuti gerakan Assef. 
Ia berkata datar, “ Jangan sampai saya mengubah julukan Anda menjadi Assef si Mata Satu,”
Hasan membidikan ketapelnya tepat ke mata kiri Assef. Akhirnya Assef dan teman-temannya pergi. Dan ia telah bersumpah untuk membalas dendam kepada Amir dan Hasan atas penghinaan yang ia terima hari itu.

Ternyata, bukan hanya Assef yang jadi penghancur hubungan antara Amir dengan Hasan. Ada monster yang lebih mengerikan, yang bersemayam dalam hati salah satu dari mereka...

Bersambung.. ^^





Sabtu, 17 September 2011

Think Twice, Act Wise!

Suatu hari, Amaya mendengar berita yang kurang baik mengenai teman sekantornya. Ia merasa kaget sekaligus bersemangat mendengar berita yang belum tentu kebenarannya itu. Kenapa? Kebetulan si teman sekantornya juga merupakan salah satu saingan terberat dalam kemajuan karirnya. Tanpa pikir panjang, ia segera menyebarkan berita tersebut kepada taman-temannya yang lain. Satu kata menjadi sepuluh kata, sepuluh kata menjadi seratus kata, seratus kata menjadi seribu kata. Satu orang menjadi dua orang, dua orang menjadi empat orang, empat orang menjadi delapan orang, sehingga akhirnya semua orang mengetahui berita miring tersebut.

Sang teman merasa sangat sedih ketika mengetahui bahwa telah beredar berita yang sangat jelek mengenai dirinya. Ia mencoba membantahnnya, tapi sia-sia. Atasan memanggilnya, semua orang menatapnya, dan karirnya diambang kehancuran.

Beberapa hari kemudian, Amaya mengetahui bahwa berita yang ia ketahui tentang temanya itu adalah tidak benar. Ia merasa menyesal dan ingin meminta maaf pada temannya itu. Tapi terlambat, si teman sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya, bahkan pergi meninggalkan kota itu karena tidak tahan mendengar gnjingan orang tentang dirinya.

Amaya merasa bersalah. Ia kemudian pergi menemui orang bijak untuk meminta nasihat mengenai semua yang telah terjadi. Orang bijak menyuruh Amaya pergi ke pasar dan membeli sebah kemoceng. Dengan terheran-heran, Amaya pun menuruti nasihat orang bijak tersebut dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. "Cabuti bulu kemoceng itu, dan sebarkanlah di sepanjang jalan yang kau lalui menuju ke rumah mu,!" Begitulah kira-kira perintah si orang bijak. Amaya mematuhinya.

Pada keesokan harinya, Amaya kembali mememui orang bijak tersebut. "Kembalilah ke jalan yang kamu lalui kemarin, dan kumpulkan semua bulu ayam yang kau buang kemarin. Setelah terkumpul, satukanlah lagi menjadi sebuah kemoceng. " Kata orang bijak tersebut. Amaya mematuhinya. Tapi ia tidak dapat menemukan bulu-bulu ayam tersebut, karena telah hilang tertiup angin. Ia kembali menemui orang bijak itu dengan tangan hampa.

Orang bijak hanya tersenyum dan berkata ," Begitulah, sangat mudah untuk melemparkan sesuatu, tetapi sangat sulit untuk mengambilnya kembali. Seperti berita yang kau katakan tentang temanmu. Sangat mudah untuk menyebarkannya, tetapi hampir tidak mungkin untuk mengumpulkannya kembali, dan membuat keadaan menjadi seperti sebelumnya. Maka berhati-hatilah dengan lidahmu, walaupun hanya seonggok kecil daging yang tidak bertulang, lidah mampu mengendalikan kehidupan."

Think twice, act wise!


^_^