Selasa, 27 September 2011

Murder on The Dance Floor

Boseeeeennnnn....banget siang ini. Amaya menguap. Kantornya sepi banget, kerjaan banyak, badannya pegel-pegel....Pengennya  pasang musik Sophie Ellis Bextor yang kenceng, trus loncat-loncat, atau joget-joget kaku ala manekin cantik.

"Go..go..go..go..go..
I'll get over you
You drive me crazy up the wall
Think you Mr. know it all.."



 Lagu-lagu si cantik ini emang paling bisa deh bangkitin mood! Coba aja denger : Take Me Home, And This Ain't Love, atau Murder on The Dance Floor. Yang satu itu, Amaya paling suka video clipnya. Ceritanya tentang lomba dance, dan Sophie dan pasangannya jadi salah satu peserta lomba itu. Tapi Sophie dan pasangannya ternyata nggak cukup pede buat menangin lomba. Jadi mereka berbuat curang dan melakukan berbagai cara buat menyingkirkan para pesaing mereka. So, it looks like the moral message of the video is : if you cheat, you win, hahaha...

Amaya termangu. Mungkin sebenernya, seperti itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari di lingkungannya. Khususnya di lingkungan pekerjaan. Suasana persaingan yang panas, ditambah gesekan-gesekan antar sesama karyawan, membuat udara semakin gerah, napas semakin tercekik, dan bekerja menjadi tidak nyaman.

Terkadang seseorang berusaha membuat dirinya terlihat bagus di mata atasannya dengan cara menjatuhkan orang lain, sehingga dia tampak lebih tinggi dan lebih pintar.Orang yang kurang percaya diri akan berusaha mencari sekutu sebanyak-banyaknya, agar ia mendapat banyak suara pembenaran atas kesalahan yang suatu hari mungkin akan dilakukannya. Sebaliknya, orang dengan kepercayaan diri yang tinggi akan terus berlari dan tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Tidak peduli pada timnya, tidak peduli pada anak buahnya, tidak peduli terhadap apapun kecuali dirinya sendiri.

Di kalangan karyawan perempuan rasanya lebih parah. Selain sikut menyikut, para karyawan perempuan juga biasanya dilengkapi dengan beberapa senjata lainnya seperti : tampang manis untuk menjilat, tampang simpati untuk berpura-pura sedih ketika teman melakukan kesalahan, air mata buaya untuk meyakinkan atasan bahwa dia adalah seorang yang working mother yang sangat membutuhkan pekerjaan dan tidak pantas menerima mutasi atau pemecatan. Jangan lupa bisikan-bisikan halus terhadap sesama rekan kerja untuk membantu menyingkirkan rintangan-rintangan kecil yang menghalangi kemulusan karier.

Amaya jadi senyum-senyum sendiri.  It's a murder on the dance floor, too! Jangan salah sangka, Amaya memang tidak pernah membunuh orang. Dia hanya berbuat lebih dari yang seharusnya dia lakukan untuk memuluskan jalannya dan memantapkannya pada zona nyaman di kantornya. Lagi pula, siapa yang nggak pernah? Siapa yang tidak pernah tersenyum kegirangan (walaupun dalam hati) saat pesaing kita tersingkir, entah dengan jalan yang  fair ataupun curang? Siapa yang tidak pernah melebih-lebihkan gosip? Siapa yang tidak pernah menghindar ketika teman butuh bantuan menyelesaikan pekerjaannya? Siapa yang tidak senang ketika bos yang kita benci kena batunya? atau dibantai atasannya? Dan seperti biasa Amaya mulai mencari-cari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya, untuk menenangkan pergulatan hatinya.

"Ah, semua orang juga melakukan itu kok : munafik. Asal gak ketauan, toh gak akan ada yang tersakiti..."

Seperti Sophie Ellis Bextor dan pasangannya, yang akhirnya menjadi juara dance competition itu...

Mengamati situasi dan menyusun strategi.. :P

Akhirnya jadi juaraaa...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar