Ini adalalah salah satu buku favoritku. The Kite Runner, oleh Khaled Hosseini. Ceritanya tentang dua orang anak Afghanistan yang menjalin persahabatan, namun ternyata begitu banyak pengkhianatan yang harus memisahkan mereka : kasta, pengorbanan, perang, Taliban, dan yang terutama adalah penghianatan dari dalam dirinya sendiri. It is sooooo.... touching!
Pengan coba bikin resensinya, tapi pasti panjang banget. Jadi bersambung-sambung aja :D
And here comes the part one.
The Kite Runner, Part 1
Afghanistan, 1975
Amir dan Hasan adalah dua orang anak Afghanistan yang sangat berbeda. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi. Amir bangsawan Pasthun, penganut Islam Sunni yang hidup bergelimang harta dan tinggal di rumah yang mewah. Ibunya, Sofia, adalah sosok wanita agung, yang rela mengorbakan jiwanya pada saat ia melahirkan Amir ke dunia. Sedangkan ayahnya,yang ia panggil Baba, seorang pengusaha terkenal dan dihormati di seluruh negeri. Orang-orang memanggilnya dengan nama Tophan Agha (artinya Tuan Topan), simbol kehormatan dari kehebatannya. Amir seorang anak yang tampan, pintar, lembut, dan rela melakukan apapun demi mendapatkan kasih sayang dari sang ayah yang selalu merasa tidak puas kepada dirinya.
Sedangkan Hasan, berasal dari suku Hazzara yang dianggap hina, , penganut Islam Syiah hidup seadanya di sebuah pondok tanah liat di pekarangan belakang rumah Amir. Ibunya, Sanaubar, sangat membencinya sehingga dengan tanpa perasaan ia pergi meninggalkan Hasan yang belum berusia 6 hari. Ayahnya bernama Ali, seorang pelayan yang mengalami kelumpuhan otot wajah bagian bawah sehingga tidak pernah bisa tersenyum. Kaki kanannya terpilin dan mengecil akibat polio, yang menyebabkan ia berjalan pincang. Orang-orang memanggilnya dengan nama Babalu (artinya hantu), simbol penghinaan bagi keburukrupaannya. Hasan seorang anak yang bermata sipit, bertelinga rendah, dan berbibir sumbing.Tapi ia pemberani, penyayang, dan rela melakukan apa saja demi melindungi Amir.
Walaupun mereka berbeda, Amir dan Hasan tak terpisahkan. Mereka selalu bersama, bermain layang-layang, membaca, mendaki bukit. Karena sama-sama ditinggalkan ibu kandungnya sewaktu merka masih bayi, mereka bahkan menyusu pada ibu susuan yang sama. Bagi Hasan, Amir adalah sahabatnya, saudaranya, belahan jiwanya. Hasan menjadi orang yang sangat bisa diandalkan bagi Amir. Akan tetapi bagi Amir, Hasan adalah pelindungnya, pelayannya, pengejar layang-layangnya. Hasan tidak pernah mengatakan “tidak” pada Amir. Bahkan jika Amir menyuruhnya makan tanah, Hasan akan melakukannya. Jika Amir mengalahkan sebuah layang-layang pada sebuah turnamen ataupun hanya permaninan, maka Hasan akan berlari secepat kilat untuk mengejar layang-layang itu, untuk kemudian ia persembahkan kepada Amir, sebagai trofi bagi kemenangannya. Hasan tidak pernah menolak Amir, apapun yang Amir minta, Hasan akan menyunggingkan senyum tebaiknya, mengangkat kedua jempolnya, dan berkata , “Untukmu, keseribu kalinya..”
Amir adalah seorang anak yang tidak pernah bersentuhan dengan kekerasan. Ia menyukai keheningan, buku, dan puisi. Hal ini membuat Baba, sang ayah yang pernah mengalahkan tiga ekor beruang gunung, memendam kekecewaan terhadap Amir. Bahkan jika ada anak-anak lain yang menganggu dirinya, maka Hasan lah yang akan maju menghadapinya. Suatu hari pada saat mereka tengah bermain bersama, Amir dan Hasan bertemu dengan Assef dan teman-temannya. Assef adalah seorang keturunan Afghan-Jerman. Tubuhnya jauh lebih tinggi daripada anak-anak yang lain. Rambutnya pirang dan matanya biru. Seorang sociopath kecil yang ditakuti oleh teman-temannya. Ia dijuluki “Assef si Pelahap Telinga”, dan itu bukan tanpa alasan. Ia pernah mengigit putus telinga seorang anak yang mengalahkannya dalam adu layang-layang.
Amir dan Hasan ketakutan bertemu dengan Assef dan kelompok kecilnya. Assef menunjuk Hasan dengan dagunya.
“Hei, Pesek, bagaimana kabar Babalu?” Tanya Assef.
“Biarkan kami pergi, Assef, kami tidak menganggumu.” Amir menjawab gemetar.
Assef menyeringai dan mengambil sesuatu dari saku belakang celananya yang membuat Amir dan Hasan semakin ciut : pelindung buku jari dari baja. Assef berkata bahwa ia terganggu oleh kehadiran Amir dan Hasan. Karena Hasan adalah seorang Hazzara yang hina, dan karena Amir selalu bersamanya. Amir mundur ketakutan ketika Assef mengambil langkah untuk meyerangnya. Tetapi Hasan melangkah dengan berani ke hadapan Assef dengan ketapel terpasang ditangannya. Sebuah batu sebesar biji kenari siap dibidikan ke wajah Assef.
“ Tolong tinggalkan kami, Agha,” Hasan berkata dengan sopan kepada Assef. Hasan selalu memanggil orang lain dengan sebutan Agha (tuan) yang menandakan bahwa ia berada pada kasta yang terendah. Assef tertawa mengancam, tetapi Hasan membidikan ketapelnya mengikuti gerakan Assef.
Ia berkata datar, “ Jangan sampai saya mengubah julukan Anda menjadi Assef si Mata Satu,”
Hasan membidikan ketapelnya tepat ke mata kiri Assef. Akhirnya Assef dan teman-temannya pergi. Dan ia telah bersumpah untuk membalas dendam kepada Amir dan Hasan atas penghinaan yang ia terima hari itu.
Ternyata, bukan hanya Assef yang jadi penghancur hubungan antara Amir dengan Hasan. Ada monster yang lebih mengerikan, yang bersemayam dalam hati salah satu dari mereka...
Bersambung.. ^^
Hasan membidikan ketapelnya tepat ke mata kiri Assef. Akhirnya Assef dan teman-temannya pergi. Dan ia telah bersumpah untuk membalas dendam kepada Amir dan Hasan atas penghinaan yang ia terima hari itu.
Ternyata, bukan hanya Assef yang jadi penghancur hubungan antara Amir dengan Hasan. Ada monster yang lebih mengerikan, yang bersemayam dalam hati salah satu dari mereka...
Bersambung.. ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar