Minggu, 04 Desember 2011

When The Day Was not Your Day

Pernahkah suatu hari kamu merasa bahwa hari itu is definitely "not your day"? Yaitu suatu hari dimana kamu merasa seluruh dunia menertawakan dan memojokanmu. Dan semua hal bersengkongkol untuk menjatuhkanmu. Aku pernah. Suatu hari merasa sangat down, putus asa, dan merasa sia-sia. Segala yang aku lakukan sepertinya tidak membuahkan hasil, dan aku mulai mengasihani diriku sendiri. Sesaat aku merasa hidupku sia-sia. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang spektakuler, yang hebat, yang membanggakan. Aku tidak pintar, aku tidak cantik, aku tidak kaya, aku tidak sukses. Aku tidah pernah membahagiakan orang-orang yang cintai, aku tidak pernah membuat orang tua ku bangga. Yang aku lakukan hanyalah membebani mereka dengan semua masalah yang aku hadapi. Aku benar-benar merasa seperti seorang pecundang. Terlintas di kepalaku, bahwa aku tidak punya masa depan. Rasanya ingin sekali pulang ke rumah, meringkuk di bawah selimutku, dan tidak menampakkan diri pada dunia hingga hari kiamat tiba. Aku tidak ingin melakukan apa pun. hanya ingin menangis dan meratapi hidupku. Aku juga tidak mau, tapi mau bagaimana lagi, I have no choice.

Tanpa tujuan yang jelas, aku pergi dan membeli tiket kereta ekonomi Bogor - Jakarta. Hari itu hari minggu siang. Kereta itu kumal, berdebu, kosong, dan sepertinya tidak bersemangat. Persis seperti aku waktu itu. Aku duduk termenung memperhatikan penumpang lain, seorang bapak tua dan seorang anak kecil. Bapak itu mengenakan pakaian yang sudah kumal : celana panjang yang sudah tidak jelas apa warnanya, dan kemeja batik yang sudah belel. Sendal jepit dan peci usang melengkapi penampilannya. Sedangkan anak kecil itu (entah anaknya atau cucunya) mengenakan celana pendek, kaos, dan sendal jepit. Punggung nya membawa tas ransel butut dan tangannya menggenggam erat kantong kresek berwarna hitam. Tangan si bapak merangkul bahu anak itu, melindunginya. Lalu si bapak mengeluarkan uang dari saku bajunya, dan menghitungnya. Terdiri dari satu lembar sepuluh ribu dan tiga lembar seribuan. Semua sudah kumal. Si bapak memberikan uang itu pada anak kecil itu. Si anak menerimnya dengan sumringah. Aku jadi tersenyum melihat kepolosan anak itu. Dalam hati berpikir, "Kenapa ngasih uang tanggung begitu? tiga belas ribu, nggak lima belas ribu gitu..." Lalu terpikir lagi, mungkin sebenarnya bapak itu ingin memberi lebih, tapi tidak punya uang lagi. Maybe it's all he's got, dan ia memberikan semuanya pada anak itu. Kasih sayang orang tua memang luar biasa. Dadaku menjadi sesak, teringat orang tua dan keluargaku yang selalu melimpahiku dengan kasih sayang.

Tak mau terlarut, aku lalu mengalihkan pandanganku dari mereka. Melihat seorang ibu cacat (dengan tangan dan kaki yang tidak normal) yang berusaha menyeret tubuhnya dengan terseok-seok menyapu lantai kereta yang penuh dengan sampah.Yah, aku juga tidak tahu apakah cacatnya betulan atau bohongan, but hell yeah...dia hanya berusaha mendapat uang.

Di sudut kereta, seorang pedagang asongan tampak duduk dengan lelah. Mungkin usianya belum begitu tua, tapi kerutan-kerutan penderitaan tampak jelas sekali di wajahanya. Kulitnya hitam, dan badannya penuh peluh. Kelihatannya, asinan kedondong dan kacang goreng dalam plastik yang ia jual belum laku, karena jumlahnya masih sangat banyak. Kasihan sekali.  Harga makanan yang ia jual hanya seribu rupiah. Berapa keuntungan yang ia dapat? Mungkin lima ratus rupiah, atau dua ratus, atau mungkin seratus rupiah. Kalau ia beruntung menjual seratus kantong, ia bisa pulang membawa lima puluh ribu rupiah. Itu pun kalau untungnya lima ratus. Kalau ia hanya bisa menjual sepuluh? Kalau tidak jual sama sekali dan tidak dapat uang? Apa keluarganya bisa mendapat makanan?

Tiba-tiba aku merasa malu, maluuuuu sekali. Mungkin inilah yang namanya tidak bersyukur, dan menyia-nyiakan karunia. Aku ini masih muda, sehat wal afiat. Aku diberkahi dengan bakat dan kemampuan yang luar biasa senadainya aku mau mnggunakannya. Dan di dunia ini, aku ditempatkan di tengah-tengah keluarga dan teman-teman yang sangat menyayangi aku. Betapapun kerasnya dunia ini, semua orang harus berjuang demi kehidupannya. Dan aku juga sebenarnya tahu, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan cobaan yang lebih berat dariapada yang bisa ditanggung oleh umat-Nya. So, being desperate and hopeless were the most stupid things I've ever thought. From that moment on I realized, that the word "no choice" was not really exist. As long as you alive, you will always have choices. As much as you want.

So when the day was not my day, I'm always going somewhere, hanging around, until I find the love and spirit of people's life, which is exactly every where.

What about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar