Jumat, 25 Maret 2011

Mahasiswa : Kini dan Nanti

Pusing, gemas, kesal, heran, bercampur jadi satu saat saya melihat berita tentang mahasiswa yang berunjuk rasa. Kenapa mereka begitu getol berunjuk rasa? Saya jadi ingat, mungkin mereka saat ini merasakan apa yang saya rasakan beberapa tahun lalu, ketika suatu peristiwa penting terjadi di negeri kita.

Pada bulan Mei 1998, kekuasaan Presiden Soeharto telah digulingkan oleh kekuatan rakyat, yang diwakili oleh puluhan ribu mahasiswa yang mengambil alih gedung DPR/MPR selama berhari-hari. Waktu itu, saya yang baru saja naik kelas 3 SMA, terkagum-kagum kepada para senior mahasiswa yang begitu gagah berani. Mereka berkumpul bersama bahu-membahu menjadi kekuatan rakyat. Tak peduli apapun warna jas almamater yang mereka kenakan, kuning, biru, merah, hijau, semua bersatu padu menuntut keadilan di muka bumi pertiwi. Dan ketika Presiden Soeharto membacakan pengunduran dirinya dari jabatan Presiden, saya merinding membayangkan luapan kegembiraan, helaan nafas lega, dan teriakan-teriakan penuh kemenangan dari para mahasiswa tersebut. Waktu itu, mahasiswa adalah pahlawan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setahun kemudian, bulan Juni 1999, saya pun menjadi mahasiswa. Perjuangan reformasi masih berlanjut. Unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa masih marak terjadi. Saya ingat betul, saya baru tiga bulan menjalani kuliah dan sedang menjalani masa orientasi mahasiswa ketika hal ini terjadi. Waktu itu saya sedang mewawancarai salah satu anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai salah satu tugas orientasi. Sebuah demo akbar akan dilaksanakan di Jakarta oleh gabungan mahasiswa seluruh Indonesia. Entah apa sebabnya saya lupa (kalau tidak salah karena larangan yang dikeluarkan oleh pihak Kampus), mahasiswa kampus saya tidak akan ikut ambil bagian dalam demo akbar tersebut. Akibatnya, Sekretariat BEM menerima paket gelap yang diduga kuat dikirim oleh mahasiswa lain (mungkin dari luar kampus) sebagai hadiah atas “kepengecutannya”. Paket tersebut berisi bangkai ayam dan baju dalam wanita. Kurang ajar betul! Saya tidak terlalu peduli pada bangkai ayamnya, tetapi baju dalam itu mengganggu saya. Kebanggaan saya akan sosok mahasiswa sedikit tercoreng. Ternyata para calon cendekia nan berani itu, para pejuang idealisme, menganggap kami para wanita sebagai lambang kepengecutan. Harga diri saya sebagai wanita merasa terusik dan saya tak lagi bersimpati terhadap mahasiswa yang berdemo.

Tetapi harapan masih selalu ada. Suatu hari ketika akan dilakukan lagi demo akbar oleh gabungan mahasiswa di Jakarta, saya dan beberapa orang teman pun bergabung. Kami menerima arahan-arahan dan juklak demo di lapangan. Sang mentor mengajarkan kami dengan sabar dan bersemangat. Menjelaskan tugas-tugas jenderal lapangan, koordinator lapangan, siapa bertanggung jawab kepada siapa, apa yang harus dilakukan apabila terpisah dari rombongan, harus bagaimana bila ada huru-hara, bila ada yang terluka, sampai sistem evakuasi yang efektif. Semua dipersiapkan dengan sangat mendetail. Anehnya penjelasan hanya seputar masalah teknis. Tidak ada penjelasan mengenai latar belakang, alasan, bukti dan fakta, yang mengharuskan kami melakukan kegiatan ini. Mungkin seperti halnya panggung politik, hal-hal besar seperti ini cukup diketahui oleh para elit mahasiswa. Sedangkan mahasiswa jelata seperti saya tak perlu mengerti, cukup dengan membawa spanduk-spanduk, dan berteriak dengan penuh semangat. Entah karena kami dianggap cukup pintar untuk membahas permasalahan tersebut dalam benak kami sendiri, atau kami tidak cukup penting. Atau mungkin saya saja yang bodoh. Sebenarnya alasan saya bergabung adalah karena saya sangat ingin tahu, kenapa harus memilih untuk berunjuk rasa. Tapi saya hanya bisa bungkam, tidak mampu mengalahkan euphoria perjuangan yang begitu mengebu-gebu. Sekali lagi saya kecewa dan batal ikut demo.

Kali lain saya mengenal salah seorang senior yang juga rajin berdemo. Bukan mahasiswa sembarangan, melainkan seorang Presiden BEM dari salah satu Fakultas di Kampus, juga anggota dari himpunan mahasiswa yang ternama di Indonesia. Dia adalah orang yang sangat idealis. Sosok mahasiswa dengan hati yang murni, berjuang demi bangsa dan negara. Persis seperti mahasiswa-mahasiswa dalam khayalan saya, mahasiswa Mei 1998 (saya lupa bertanya padanya, tapi saya hampir yakin dia adalah salah satu dari mahasiswa-mahasiswa tersebut). Saya pernah bertanya kepadanya, mengapa dia begitu bersemangat dalam hal unjuk mengunjuk rasa, memprotes dan menyalah-nyalahkan pemerintahan yang ada. Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa saya, mahasiswa baru, belum mengerti nikmatnya berjuang bagi reformasi. Sekarang, senior saya tersebut, telah mempunyai sebuah keluarga bahagia dan mengelola sebuah perusahaan agribisnis yang sukses, nun jauh di Jawa Timur sana. Tak lagi menyentuh sesuatu yang berbau politik, tak lagi mengendus aura perjuangan Mei 1998, dan tak lagi peduli terhadap keadaan negeri yang carut marut ini,. Rupanya dia telah mengerti nikmatnya hidup tanpa memikirkan perjuangan dan reformasi.

Kembali ke masa kini, kepada mahasiswa masa kini. Saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat mereka berunjuk rasa di televisi, berteriak-teriak atas nama rakyat, menilai pemerintah telah gagal dan menginginkan mereka secepatnya mundur dari jabatannya. Mari kita berandai-andai. Seandainya tuntutan mereka dipenuhi (mungkin karena kuping pemerintah sudah panas mendengar teriakan mereka), misalnya SBY mundur, lalu apa yang akan mereka lakukan? Siapkah mereka dengan apa yang terjadi selanjutnya? Mungkin, seperti saya, mereka juga terkenang-kenang peristiwa Mei 1998, saat seseorang yang sudah berkuasa selama 32 tahun akhirnya dikalahkan oleh kekuatan rakyat. Mungkin mereka mengharapkan hal yang sama. Tapi itu kan tidak mungkin. Sekarang situasi dan kondisinya sudah berbeda. Masalah yang dihadapi pun tak lagi sama.

Di Negara tetangga kita, Filipina, kejadian serupa juga pernah terjadi. Pada masa kekuasaan Presiden Ferdinand Marcos, seorang Benigno Aquino memutuskan untuk pulang dari pengasingannya di AS untuk melawan kediktatoran sang Presiden. Tetapi Benigno terbunuh ketika baru sampai di bandara Manila. Rakyat pun emosi. Berbondong-bondong mereka turun ke jalan. Pemerintahan Ferdinand Marcos tak mampu lagi membendung kemarahan rakyatnya, sehingga menyerah dan meninggalkan Filipina. Persis seperti yang terjadi di Indonesia, Mei 1998. Bedanya, di Filipina, sepeninggal Ferdinand Marcos, rakyatnya hanya mengusung satu nama untuk ditetapkan sebagai Presiden yaitu Corazon (Corry) Aquino, istri dari Benigno Aquino. Maka dengan dukungan penuh dari rakyatnya, Corry maju dan menjabat sebagai Presiden dengan langkah yang mantap. Dengan memiliki rakyat Filipina di belakangnya, Corry tidak gentar oleh berbagai gangguan, termasuk ancaman kudeta militer yang terjadi hingga berkali-kali. Walaupun suaminya telah ditembak sampai mati, tetapi Presiden Corry tetap teguh memegang amanat rakyatnya, membuang jauh-jauh kepentingan pribadinya untuk membalaskan sakit hati kepada pihak –pihak yang telah menindasnya selama berthaun-tahun. Kepentingan rakyatnya selalu menjadi yang utama. Di sisi lain, Presiden Cory juga telah berhasil untuk menahan gelombang kekuatan rakyat yang dahsyat itu, sehingga tidak berlarut-larut. Batasan-batasan demokrasi dan kebebasan berpendapat di kawal dengan ketat. Tidak dibiarkannya kekuatan rakyat itu kembali ke jalanan, segala keinginan dan aspirasi rakyat dibimbing kembali ke tempat yang seharusnya, dan ditindaklanjuti dengan dengan baik. Pasti Presiden Corry tahu betul, bahwa kekuatan rakyat kalau dibiarkan akan menjadi mengerikan, dan bisa membuyarkan konsentrasinya membenahi Negara.

Unjuk rasa, aksi damai, demonstrasi, atau apapun namanya, adalah sesuatu yang wajar. Dikatakan wajar apabila dilakukan dalam batasan-batasan yang masuk akal. Dengan tuntutan yang masuk akal, yang tidak membuat orang kehilangan rasa simpatik. Akan tetapi, di negara kita, setelah peristiwa Mei 1998 yang mengharukan itu, unjuk rasa menjadi semacam budaya. Semua ide, gagasan, aspirasi, dan penilaian masyarakat, tumpah ruah di jalanan. Mungkin karena kita tidak punya satu sosok seperti Corry Aquino, yang diberi kepercayaan penuh oleh seluruh rakyat. Saat itu Pak Habibie sebagai Wakil Presiden secara otomatis menggantikan Soeharto, sebelum kemudian dilakukan pemilihan Presiden yang baru. Kemudian terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden pertama era reformasi. Itu pun setelah menyaring beberapa calon, bukan calon tunggal yang telah dipilih oleh rakyat. Maka pihak-pihak yang tidak puas menjadi resah. Gejolak bukan hanya terjadi di kalangan rakyat tetapi juga di kalangan elit politik. Sebaliknya, karena rakyat memang tidak pernah menyebut satu nama yang diinginkan, terjadilah krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Yang ini salah yang itu salah. Yang ini tidak becus yang itu tidak becus. Si ini seharusnya mundur, si itu seharusnya mundur. Ini tidak pas itu tidak pas. Mereka kembali turun ke jalan, berharap kesuksesan peristiwa Mei 1998 akan kembali terulang. Tentu saja rakyat dalam hal ini, sebagian besar diwakili oleh mahasiswa-mahasiswa yang cemerlang. Atau paling tidak, rakyat di pelosok daerah juga mencontoh ulah para mahasiswa dalam menuntut keinginannya terhadap pemerintah. Bahkan bukan hanya di Ibu Kota, rakyat yang merasa tidak puas dengan pemimpinnya : Gubernur, Walikota/Bupati, Camat, Lurah mungkin juga sampai RW atau RT, segara turun ke jalan, menghimpun kekuatan rakyat untuk menyampaikan kekecewaannya (biasanya dengan langsung menuntut mundur si pemimpin). Setiap terjadi permasalahan atau satu peristiwa apapun bentuknya: korupsi, bencana alam, wabah penyakit, pengangkatan pejabat, kunjungan Presiden, peringatan hari besar, semua hal diwarnai oleh unjuk rasa mahasiswa. Sepertinya mereka tak pernah bisa menemukan cara lain yang lebih bermartabat selain berunjuk rasa.

Pernah saya bertanya kepada seorang rekan mahasiswa dan beberapa orang temannya yang masih sering turun ke jalan (memang ini tidak bisa mewakili populasi mahasiswa seluruhnya, tetapi bagi saya yang hanya memuaskan rasa ingin tahu, ini sudah cukup) sebenarnya, jika mereka menuntut seseorang, misalnya seorang SBY untuk mundur, siapa sih yang mereka siapkan sebagai calon pengganti? Mereka menjawab (dengan alasan bahwa mahasiswa adalah pihak yang independen dan tidak memihak) : Siapa saja, yang penting jujur dan mendahulukan kepentingan rakyat. Saya bertanya lagi : Iya, seperti siapa misalnya? Mereka menjawab lagi : Seseorang yang mau mendahulukan kepentingan rakyat di atas segalanya. Jujur, dan benar-benar bisa di percaya untuk mengemban amanat rakyat. Yang adil dan tegas! Jangan yang omong doang kayak pemerintah sekarang! Saya bertanya lagi : Iya, ada nggak kira-kira? Siapa dia? Kalau kamu nggak tau siapa, mana mungkin kamu sanggup mendukungnya? Salah-salah baru setahun menjabat, kamu tuntut dia buat mundur lagi…Mereka menjawab (kali ini dengan kesal) : Siapa saja, kalo perlu rakyat biasa juga boleh! U-uh, lagi-lagi saya dikecewakan mahasiswa yang suka berunjuk rasa. Ternyata mereka hanya ingin menurunkan, tak ingin menaikkan. Hanya bisa bongkar, tak bisa pasang.

Tak jarang unjuk rasa pun berujung dengan kekerasan. Merusak kantor-kantor pemerintahan, fasilitas-fasilitas umum, atau kendaraan-kendaraan pemerintah (padahal kantor-kantor dan fasilitas-fasilitas itu dibangun dengan uang rakyat yang mereka bela!). Terkadang jatuh korban baik dari pihak mahasiswa maupun pihak aparat kemanan. Kalau sudah begini, siapa mau bertanggung jawab? Ruas-ruas jalan dipenuhi massa, jalan dialihkan dan macet dimana-mana. Bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru. Tapi mungkin bagi mereka, inilah yang namanya pengorbanan. Belum lagi sisa-sisa kekacauan yang mereka tinggalkan begitu saja di jalanan. Bayangkan betapa kacaunya jalanan dengan berbagai macam sampah : bekas minuman, bekas pembarakaran benda-benda (biasanya paling tidak membakar ban bekas atau poster-poster), tisu, dan masih banyak lagi. Tentunya tukang sampah harus bekerja ekstra keras esok hari. Kembali rakyat kecil yang menanggung akibatnya.

Satu hal yang positif dari para mahasiswa yang getol berunjuk rasa adalah kecepatan dan kekuatan mereka untuk menghimpun massa. Tidak jarang satu kali acara unjuk rasa diikuti oleh ribuan anggota. Dan dengan intensitas yang cukup sering. Dengan kekuatan sebesar itu mungkin sebenarnya mereka mampu untuk mendukung pemerintah yang ada dalam menjalankan program–programnya dengan melakukan sesuatu yang konkrit. Bukan hanya melihat dan menunggu, lalu satu tahun kemudian beramai-ramai turun ke jalan dan meminta sang pemimpin untuk mundur. Pernahkah terpikir oleh mereka untuk secara rutin berkumpul dan mengerahkan massa sebanyak-banyaknya, lalu beramai-ramai membersihkan Jakarta ataupun kota lainnya? Bukankah ini juga bentuk kepedulian terhadap bangsa dan sesama? Mungkin banjir akibat luapan sungai yang penuh sampah akan berkurang. Atau beramai-ramai membantu korban bencana alam di tempat pengungsian. Jika segerombolan besar mahasiswa dapat menggulingkan Soeharto -setelah 32 tahun mencengkram Indonesia- dalam waktu beberapa hari, maka sebenarnya mereka pun dapat mengawal Presiden terpilih -siapa pun itu- untuk dapat menjalankan amanat rakyat. Pada akhirnya kita kembali pada pepatah lama “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Menyalahkan bukanlah solusi. Berbuatlah sesuatu yang signifikan, mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Mungkin ini terdengar klise, tapi kata-kata “satu hal kecil dapat mengubah dunia” itu benar adanya. Bayangkan jika satu orang mahasiswa memungut sampah dan memasukkannya ke tempat sampah setiap kali melihat sampah yang tercecer, mungkin negera kita akan bebas dari sampah yang berceceran. Membantu penghijauan dan berhenti merokok akan mengurangi pemanasan global. Tidak meninggalkan tv dan computer menyala terus di kamar kos bila tidak digunakan, untuk menghemat listrik supaya TDL tidak naik terus. Tidak memberikan “uang damai” pada polisi saat ditilang berarti menentang adanya kolusi, tidak melakukan aksi vandalisme pada fasilitas-fasilitas yang berasal dari uang rakyat. Berhenti menjadi konsumen pasar gelap dan barang bajakan juga akan sangat menguntungkan bagi Negara. Ribut sana sini meminta kenaikan dana subsidi pendidikan, tetapi yang ada saja belum dimanfaatkan dengan baik. Alih-alih rajin belajar malah seringnya cabut kuliah dan nongkrong di mal, atau lebih parah lagi, tawuran dengan sesama mahasiswa (salah satu perilaku negatif yang juga menjamur di kalangan pelajar). Saya akui mungkin ini hanya sinisme saya saja yang kehilangan rasa simpati kepada mahasiswa yang suka berunujk rasa. Dan saya tidak adil karena menggeneralisasi mereka. Tapi kan masuk akal juga kalau kekuatan mereka digunakan untuk mendukung pemerintah. Think globally act locally! Berbuatlah sesuatu, itu yang penting. Bukan hanya mau menjadi pahlawan di depan rakyat dengan berkoar-koar di bawah terik matahari yang menghitamkan kulit, tetapi malu dan gengsi menjadi “patriot” yang sebenarnya.

Marilah kita menempatkan diri pada koridor yang seharusnya. Pemerintah sudah cukup diawasi, dinilai, dan disalahkan, oleh berbagai elemen masyarakat. Para ahli, para pengamat, pers, pengacara, dan bahkan di kalangan mereka sendiri mereka saling mengawasi, saling menilai dan akhirnya saling menyalahkan. Mahasiswa kembalilah ke identitas yang sebenarnya, mempersiapkan diri menjadi generasi yang kelak akan membangun bangsa ini, dan bisa menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Right man on the right place, sehingga negeri ini tidak terus menerus kacau karena ditangani oleh orang-orang yang bukan ahlinya, orang-orang yang gagal (ini kata mereka sendiri, loh!). Para orang tua yang bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi tentulah tak ingin anaknya berakhir di rumah sakit, atau di penjara, gara-gara tertangkap dan dituduh jadi provokator saat berunjuk rasa. Simpanlah semangat dan gelora idealisme sampai negeri ini benar-benar membutuhkannya. Suatu hari nanti, sejarah mahasiswa-mahasiswa ini akan terulang. Seperti yang terjadi pada mahasiswa seniorku itu. Ketika para mahasiswa pengunjuk rasa telah lulus dan meninggalkan kampus, mereka yang tidak terjun ke dunia politik hanya akan mengenang peristiwa tersebut sebagai kegiatan yang membanggakan, tanpa benar-benar merasakan adanya efek pada hidup mereka dari apa yang telah mereka lakukan itu. Buktinya, setelah 12 tahun berlalu sejak Mei 1998, keadaan negeri kita tak kunjung membaik. Kalaupun banyak dari mereka yang telah mencapai kesuksesan dan kemapanan, dalam karier misalnya, tentu itu bukan karena dulu mereka rajin berunjuk rasa kan? Dan bagi mereka yang benar-benar terjun ke dunia politik, pasti merasa sebal melihat mahasiswa-mahasiswa generasi berikutnya yang tak henti-hentinya memprotes kebijakan ini itu, sambil berkata dalam hati : huh, emangnya gampang ngurus negara?!


^_^

ΪηδλЋ

Profesional Worker


Seorang TKW bernama Suminar bercerita dalam perjalanan pulang menuju Indonesia dari Riyadh, Arab Saudi. Ia telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 4 tahun. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia pulang ke tanah air. Bersamanya ia membawa uang hasil jerih payahnya sebanyak setengah dari jumlah seluruh gajinya selama 4 tahun (setengah lainnya telah ia kirimkan kepada keluarga di tanah air). Selain gaji sesuai dengan kesepakatan yang selalu di bayar tepat waktu, nyonya rumah juga memberikan seperangkat perhiasan emas untuknya sebagai bonus, serta beberapa potong pakaian baru untuk oleh-oleh keluarganya. Sang tuan juga membelikan Suminar tiket ke Jakarta, dengan maskapai penerbangan terbaik di Indonesia, untuk menjamin Suminar tiba di rumah dengan selamat. Suminar adalah satu dari sedikit TKW yang bernasib mujur mendapatkan majikan yang cukup baik dan memperlakukannya secara professional.

“Alhamdululilah saya tak pernah disiksa, atau diperlakukan secara tidak manusiawi,” celoteh Suminar. “Kalau dimarahi atau dibentak-bentak sih, sudah biasa. Tapi saya tidak pernah sakit hati, toh saya tidak mengerti bahasa mereka.”

Suminar hanya lulus waijb belajar sembilan tahun. Ia tidak bisa berbahasa Inggris, juga bahasa Arab. Komunikasi dengan majikan ia lakukan dengan “bahasa isyarat”. Bekalnya menjadi TKW adalah tekad yang bulat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Tugasnya sebagai pembantu rumah tangga adalah mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, dan memasak. Suminar berusaha memuaskan majikannya dengan bekerja sebaik mungkin. Semua tugas dilakukannya selagi sang majikan tidur dan saat majikan pergi ke kantor dan anak-anaknya ke sekolah. Pada saat mereka ada di rumah, Suminar menyembunyikan dirinya di dapur, tidak menampakkan diri kecuali sang majikan memanggil. Dengan demikian, menurut Suminar, tidak ada alasan bagi sang majikan untuk memarahinya karena ia sudah melakukan semua tugas dengan baik. Masuk akal, mengingat selama bekerja sebagai TKW Suminar mendapatkan hak-haknya, dan pulang ke tanah air dengan selamat. Boleh jadi sang majikan puas dengan pelayanannya, dan dapat dikatakan ia seorang pembantu rumah tangga yang professional, walaupun dengan segala keterbatasannya.

Seorang Pramugari cantik menghampari Suminar dan menawarkan minuman. Namanya Adelia. Tubuhnya tinggi semampai, rambutnya coklat mengilat, jari-jarinya lentik dan terawat, tak seperti jari-jari Suminar yang pecah-pecah. Suminar memandang Adelia dengan jengah dan menolak tawarannya.

“Teh manis, barangkali?” Adelia kembali menawarkan dengan senyumnya yang manis.

“Iya, terimakasih.” Jawab Suminar malu-malu. “Biar nanti saya bikin sendiri,” katanya.

“Tidak usah, nanti diantar,” Adelia bergegas ke pantry mengambilkan segelas teh manis untuk Suminar.

Suminar memandang Adelia dengan penuh kekaguman.

“Waah…baik sekali dia,” Kata Suminar. “Ramah banget, ya? Padahal saya cuman TKW.”

“Memang kenapa kalau TKW?” Aku bertanya. “Kan kamu juga penumpang?”

Lalu Suminar bercerita bahwa dia, sebagai seseorang kampung yang tidak berpendidikan, sudah terbiasa dengan segala kekerasan, prasangka, ataupupun ketidakramahan yang ditujukan padanya. Sebelum menjadi TKW, Suminar telah beberapa kali menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Menurutnya, kadang ada saja orang yang memperlakukan dia dengan kasar, tidak sopan ataupun merendahkan, karena dia hanya seorang pembantu. Suminar hanya tahu kewajibannya adalah mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, dan memasak. Dan haknya adalah mendapatkan gaji. Lain itu, dia tidak tahu. Karenanya dia hanya bisa menerima saja kalau ada orang yang memperlakukan dia dengan tidak adil, atau melecehkan harga dirinya, karena dia hanya seorang pembantu. Dan ketika Suminar pergi menjadi TKW, ia sudah menyiapkan fisik dan mentalnya untuk diperlakukan seperti itu, walaupun –syukurlah- itu tidak terjadi. Suminar sangat bersyukur dengan semua yang ia terima, karena banyak teman-temannya yang sama-sama mengadu nasib ke Arab Saudi, tidak seberuntung dirinya.

“Jangankan untuk pulang dan membawa oleh-oleh, untuk menghubungi keluarga saja susah. Temen-temen saya banyak yang tidak beruntung. Seringkali mereka dapat majikan yang suka menyiksa, dan mereka tidak bisa pulang ke Indonesia,” katanya.

“Loh, kan ada agen yang mengirim kalian kesana?” Tanyaku. “Memangnya mereka tidak menolong?”

“Untuk bisa segera dikirim saja susah. Dan harus bayar mahal,” Jawab Suminar. “Kalau sudah di sana ya sudah. Tidak terlantar dan dapat pekerjaan pun sudah untung.”

Adelia datang membawakan teh manis. Suminar terlihat takjub dengan keramahan dan kebaikan hati Adelia. Suminar tidak tahu bahwa Adelia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pramugari secara profesional. Adelia menjalankan apa yang diperintahkan perusahaan kepadanya, yaitu mengutamakan kepuasan pelanggan. Customer satisfaction. Siapaun dia, bahkan seorang gelandangan pun, jika telah membayar tiket dan duduk di kursi penumpang, Adelia akan melayaninya seperti ia melayani seorang raja. Itu adalah kewajibannya dan Adelia memang telah diajari untuk seperti itu. Di sisi lain, Adelia juga telah diajari bagaimana melindungi hak-haknya, melindungi martabat dan harga dirinya sebagai seorang perempuan, sehingga walaupun ia harus melayani, ia tidak akan menerima pelecehan ataupun kekerasan.

Suminar tidak tahu arti profesionalisme. Ia hanya mengerti melayani, bukan dilayani. Ia tidak menyadari, bahwa apa yang telah dilakukannya pada keluarga majikannya, sebanding dengan apa yang telah dilakukan Adelia kepadanya. Tetapi Suminar tidak tahu, karena ia tidak pernah diberi tahu, tidak pernah diajari, bahwa sebagai seorang pekerja dan seorang perempuan, ia mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan Adelia. Ia telah menjalankan kewajibannya, dan pantas mendapatkan haknya. Suminar hanya tahu bahwa mungkin jika ia tidak beruntung di Arab sana, ia akan mendapatkan perlakuan yang kasar, atau disakiti, bahkan mungkin pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Dan ia telah mempersiapkan diri untuk menerima hal-hal mengerikan itu (walaupun dalam kasus Suminar, ternyata hal itu tidak terjadi). Tidak seperti Adelia yang telah diajari bagaimana harus bertindak bila ia mengalami pelecehan atau kekerasan. Dan Suminar tidak menyadari, bahwa apa yang ia dapatkan sekarang bukanlah suatu keberuntungan, melainkan hasil dari kerja kerasnya yang profesional sebagai pembantu rumah tangga.

Hatiku jadi terenyuh sekaligus miris melihat Suminar begitu menciut dan rendah diri di balik keanggunan Adelia. Betapa ironisnya kedua perempuan itu. Padahal keduanya sama-sama telah bersikap profesional dalam menjalankan profesinya. Adelia mempersiapkan dirinya untuk mencegah perlakuan-perlakuan buruk kepada dirinya. Sebaliknya, Suminar mempersiapkan dirinya untuk menerima perlakuan-perlakuan buruk kepada dirinya. Adelia menerima pengarahan dan pendidikan yang baik dari perusahaannya, walaupun ia hanya menemani dan melayani pelanggan-pelanggan perusahaannya selama perjalanan saja. Dan tentunya apabila terjadi hal-hal yang tidak seharusnya pada Adelia, maka perusahaannya akan -dengan segenap hati- melindunginya. Tetapi bagaimana mungkin perusahaan yang telah memperkerjakan dan mengirim Suminar sejauh itu dari negerinya, selama bertahun-tahun, tidak mengajari dia bagaimana membela diri dan membela hak-haknya sebagai seorang pegawai? Tak heran banyak sekali TKW yang bernasib malang dan menyedihkan. Perusahaan Adelia dan perusahaan Suminar memang jelas berbeda. Berbeda jenis usahanya, tingkat profesionalitasnya, SOP nya, termasuk tingkat intelektual pimpinan maupun karyawannya. Tapi ini bukan masalah intelektual. Ini masalah hati nurani.




^_^

ΪηδλЋ

Wonan of A Man

woman of a man
Woman was created from the ribs of a man,
Not from his head to be above him,
Not from his feet to be walk upon him,
But from his side to be equal,
Near to his arms to be protected,
Close to his heart to be love.



(5 cm)

Kamis, 24 Maret 2011

To Be A Better Me

I know that I'm a little too old for saying this, but I really need your help guys..for doing this.
And btw, for your information, there's no word "old" in my life....

Untuk menjadi orang yang lebih baik, aq akan memulai dari hal-hal kecil yang berdampak besar :

Aq akan bangun jam setengah lima pagi setiap hari tapi nggak bakal merangkak lagi ke bawah selimut setelah solat subuh. Aq nggak akan ngebiarin kamarku berantakan (aka t4 tidur dan selimut2nya), akan merapikan baju2 dilemari,bukannya menjejalkan mereka tanpa perasaan, mencuci baju tiap hari dan bukannya mengepak baju2 kotor itu buat dibawa ke rumah tetehku on the week end, lalu menyetrika baju2 itu dengan rapi, bukan menyetrikanya dengan panik di pagi hari. Aq akan berolahraga dan bukannya nonton spongebob sepanjang pagi, akan melakukan hal berguna dan dewasa di hari libur, nggak akan bermalas2an di kasur atau mengisi perut sepanjang hari. dan aq ngga bakal 'bokasa' lagi.

Sebenernya aq udah berusaha ngelakuin smw ini, sendirian aja, karena, gila, malu dong harus bilang2 sama orang2. tapi nggak pernah berhasil. so, i've been thinking, n then decide, bahwa aq butuh dukungan buat ngelakuin ini semua. nggak ada gunanya malu, lagian u know me so well anyway...aq nggak cerita pun kalian udah tau aq, luar dan dalam, (sampe sedalam2nya) :D

Itu baru sbegaian sih, so bantu aq y temans....

^_^

♥ changing to be better 

A Good Note form Mario Teguh

Pak Mario!
Kapan saya dewasanya?

Begini,
Kedewasaan itu bukan masalah usia
atau pengalaman.
Kedewasaan itu masalah pengendalian diri.
Mau bicara yang kasar dan norak; tahan,
pikirkan akibatnya, bayangkan penyesalannya.
Mau marah; tahan dan tunggulah sebentar,
lalu sampaikan harapan Anda dengan sabar.
Selalu, hanya katakan dan lakukan yang baik, ... itu!

Mario Teguh

MTSC | Dulu Juga Pernah Muda en Keren

--diposting oleh pipi, yg sampai sekarang pun masih muda en keren!--

Bagiku, Garuda tetap JUARA !

Ada yang berbeda dengan negeri kita akhir-akhir ini. Pekikan-pekikan “Indonesia” atau “Garuda” tiba-tiba saja menggema di seluruh penjuru tanah air, padahal Hari Kemerdekaan telah lewat berbulan-bulan. Penyebabnya apalagi kalau bukan keberhasilan Timnas Sepak bola kita di ajang Piala AFF 2010? Walaupun harus menelan pil pahit setelah ditaklukan Timnas Malaysia “The Lasercheaters” 3-0 minggu malam lalu, kita harus mengakui bahwa penampilan Tim Garuda baru-baru ini memberi warna baru pada persepakbolaan nasional. Kekompakan wajah-wajah baru di Timnas seperti Irfan Bachdim dan El Loco Gonzales dengan senior-seniornya, membuahkan hasil yang menggembirakan. Satu demi satu kemenangan di raih, dan dunia persepakbolaan Indonesia seperti terbangun dari tidur yang panjang. Antusiasme pecinta sepak bola tanah air membludak. Semangat nasionalisme tiba-tiba membumbung tinggi, apalagi dengan kenyataan bahwa kita harus manghadapi “sahabat dekat” kita, Malaysia, maka pertarungan ini bagi rakyat Indonesia bukan hanya mencari gelar juara, tetapi juga ajang pembelaan harga diri. Sungguh merupakan suatu tugas yang sangat berat yang dipikul oleh Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.

Euforia ini menunjukkan satu hal yang sangat jelas bagi kita. Bahwa ternyata satu ajang sepak bola mampu menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Tak heran kalau rakyat-rakyat Brazil, Argentina, Spanyol, Jerman, merasa sangat bangga terhadap negaranya. Salah satunya adalah karena Timnas mereka merajai persepakbolaan dunia. Bahkan Jepang, sebagai salah satu negara yang tingkat nasionalisme rakyatnya paling tinggi, semakin percaya diri setelah Timnas sepak bola mereka lolos Piala Dunia tahun 2002. Maka rasanya seperti sia-sia menjalani upacara bendera setiap hari senin selama 12 tahun, karena ternyata, rasa nasionalisme tidak tumbuh melalui cara seperti itu.

Seandainya saja pemerintah kita melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Nelson Mandela pada awal-awal tahun pemerintahannya, mungkin sekarang rakyat kita selalu rukun dan dipenuhi rasa kebanggaan terhadap bangsa dan negara, Negara kita mungkin semaju Jepang, dan Timnas Sepak bola kita sehebat Brazil. -FYI, saya mengetahui hal ini bukan karena rajin membaca sejarah, tapi karena rajin noton film-film nya Matt Damon, xixi…- Ketika terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan pada tahun 1994, Mandela dihadapkan pada isu rasisme dan apartheid yang sangat kental. Ia lalu berusaha menemukan suatu cara agar seluruh rakyat Afrika Selatan, yang hitam dan yang putih, bersatu padu dengannya untuk membangun Afrika Selatan yang lebih baik. Dan itu tidaklah mudah, karena dalam istana kepresidenannya sendiri, warna kulit menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Tetapi kemudian Mandela menemukan solusi sederhana untuk semuanya itu : Rugby. Olahraga Rugby pada waktu itu, adalah simbol rasisme di Afrika Selatan. Karena rugby bukanlah olahraga yang populer di kalangan kulit hitam, sebagaimana sepak bola yang tidak popular di kalangan kulit putih. Anggota Timnas Rugby Afrika Selatan, Springbooks, hampir seluruhnya berkulit putih, kecuali satu orang, Chester Williams. Mereka yang berkulit hitam tidak pernah menyukai Springbook, apalagi mendukungnya. Tetapi tidak demikian dengan Mandela. Ia memandang Springbook sebagai jalan keluar bagi masalah terberat di negaranya yaitu perbedaan warna kulit.

Ketika Afrika Selatan didaulat menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby tahun 1995, Mandela membulatkan tekadnya untuk mempersatukan “rakyat dwiwarna” nya melalui Springbook. Ia mengundang Kapten Tim Springbook, Franscois Pienaar, ke Istana Kepresidenan dan secara terang-terangan memberitahukan niatnya, yaitu mempersatukan rakyat Afrika Selatan dengan cara menjadikan Springbook sebagai Juara Dunia Rugby 1995. Pienaar yang tertimpa beban seberat itu, tidak berkata lain selain menyanggupinya. Akan tetapi Mendela tidak membiarkan Pienaar dkk berjuang sendirian. Dengan segala kekuasaan yang ia miliki sebagai seorang Presiden, Mandela dengan segenap hati membantu dan melakukan apapun yang dapat mendukung perjuangan Tim Springbook untuk menjadi juara Piala Dunia. Misalnya dengan tidak membiarkan ANC, partai politik yang didirikannya, mengganti pemain-pemain Springbook oleh pemain kulit hitam dan tidak mengganti nama “Springbook” dengan nama yang “lebih Afrika”. Dan ia selalu menyempatkan diri menonton setiap pertandingan untuk membuktikan kesungguhannya dalam mendukung Tim Springbook. Semua itu tidak mudah ia lalui. Cemoohan demi cemoohan ia terima, dan isu bahwa Presiden Mandela akan lebih membela kepentingan rakyat kulit putih pun terus bergulir, tapi Mandela bersikukuh pada pendiriannya.



Sungguh ajaib, niat Mandela berhasil. Satu per satu pertandingan dimenangkan oleh Springbook. Perlahan-lahan rakyat Afrika mulai antusias terhadap Timnas rugby tersebut. Dukungan demi dukungan mulai mengalir. Dan akhirnya, ketika Springbook berhadapan dengan Tim Rugby Selandia Baru di Stadion Ellis Park, ribuan warga Afrika Selatan, yang hitam dan yang putih, bersatu padu mendukung mereka, mengenakan baju yang sama, baju Timnas Springbook, dan meneriakkan kata yang sama “Bokke” (nama pendek untuk Springbook). Dengan doa dari jutaan warganya yang menonton lewat TV, akhirnya Timnas Afrika Selatan, Springbook, untuk pertama kalinya berhasil menjadi Juara Dunia Rugby 1995. Dan dampaknya sangat luar biasa: dunia mengenang momen itu sebagai “Rasisme di titik Nol” karena pada hari itu, melalui Springbook, Mandela berhasil memperlihatkan pada dunia, bahwa tidak ada lagi rasisme di Afrika Selatan.

Ketika menyerahkan piala juara kepada sang kapten, Mandela berkata, “ Terima kasih Francois, atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” tetapi Francois Pienaar dengan segenap hati mengatakan, “ Tidak Pak Presiden, terima kasih atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” Dan semua warga Afrika Selatan merayakan kemenangan itu. Fenomena ‘menjadi juara baru’ ini agak mirip dengan yang terjadi di Indonesia sekarang bukan? Jadi, kebayang nggak, kalau Indonesia menjadi juara di ajang sepak bola, entah itu AFF ataupun ajang yang lebih besar, mungkin rakyat kita akan sangat mencintai sesamanya dan juga negerinya. Seandainya hal itu terjadi di Indonesia, dan Pak SBY menyerahkan piala juara dan berkata kepada kapten Timnas, “Terima kasih Firman, atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” dan kemudian Firman berkata “ Tidak Pak SBY, terima kasih atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” mungkin kita yang melihatnya akan menangis karena haru. Pertanyaanya, apakah pemerintah kita berjuang sekeras Mandela untuk mendukung Timnas Sepakbola kita?? Entahlah….Yang jelas, prestasi yang diperlihatkan Firman Utina dan timnya baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka adalah para pemain yang berpotensi untuk jadi juara. Dan untuk menjadi juara, mereka membutuhkan dukungan dari seseorang yang berani mempertaruhkan segalanya, seperti Mandela, demi mendukung kemajuan para pemain sepak bola Indonesia, demi rasa nasionalisme, dan demi harga diri negara kita. Semoga di final Leg kedua nanti Indonesia bisa membalas dendam pada Malaysia, tetapi, kalah atau menang, bagiku mereka tetap juara…




SEANDAINYA KITA JADI BOSS...dan orang lain jadi staff!!

(cuplikan karya Yosep Iswadi) 

Who's agree??? I am :D

Bila boss tetap pada pendapatnya, itu berarti beliau konsisten
Bila staff tetap pada pendapatnya, itu berarti dia keras kepala !

Bila boss berubah-ubah pendapat, itu berarti beliau fleksibel.
Bila staff berubah-ubah pendapat, itu berarti dia plin-plan !

Bila boss bekerja lambat, itu berarti beliau teliti.
Bila staff bekerja lambat, itu berarti dia tidak perform !

Bila boss bekerja cepat, itu berarti beliau smart.
Bila staff bekerja cepat, itu berarti dia terburu-buru !

Bila boss lambat memutuskan, itu berarti beliau hati-hati.
Bila staff lambat memutuskan, itu berarti dia telmi !

Bila boss mengambil keputusan cepat,
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila staff mengambil keputusan cepat, itu berarti dia gegabah !

Bila boss terlalu berani mengambil resiko, itu berarti beliau risk taking.
Bila staff terlalu berani mengambil resiko, itu berarti dia sembrono !

Bila boss tidak berani mengambil resiko, itu berarti beliau prudent.
Bila staff tidak berani mengambil resiko, itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila boss mem-by pass prosedur, itu berarti beliau proaktif-innovatif.
Bila staff mem-by pass prosedur, itu berarti dia melanggar aturan !

Bila boss curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti beliau waspada.
Bila staff curiga terhadap mitra bisnis, itu berarti dia negative thinking !

Bila boss menyatakan sulit, itu berarti beliau prediktif-antisipatif.
Bila staff menyatakan sulit, itu berarti dia pesimistik !

Bila boss menyatakan mudah, itu berarti beliau optimis.
Bila staff menyatakan mudah, itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila boss sering keluar kantor, itu berarti beliau rajin ke customer.
Bila staff sering keluar kantor, itu berarti dia sering kelayapan !

Bila boss sering entertainment, itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila staff sering entertainment, itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila boss sering tidak masuk, itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila staff sering tidak masuk, itu berarti dia pemalas !

Bila boss minta fasilitas mewah, itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila staff minta fasilitas mewah, itu berarti dia banyak menuntut !

...........dan masih banyak lagi.

Bila boss membuat tulisan seperti ini, itu berarti beliau humoris.
Bila staf membuat tulisan seperti ini, itu berarti dia :
1. frustasi
2. iri terhadap karir orang lain
3. negative thinking
4. barisan sakit hati
5. provokasi
6. tidak tahan banting
7. berpolitik di kantor
8. tidak produktif
9. tidak sesuai dengan budaya perusahaan
..........dan masih banyak lagi

....... Ha ha ha ha ..........



^_^

How Much Pain Has Cracked Your Soul??

Rasanya miris dan prihatin denger berita bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang ngelakuin aksi nekat bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Di saat ribuan orang tengah berjuang mempertahankan hidup dan menikmati hidup, mereka malah mutusin buat mengakhiri hidup. Kita nggak akan pernah tau apa yang mereka pikirkan sampai-sampai mereka berfikir bahwa kematian adalah pilihan yang terbaik. How much pain had cracked your soul until you decided to do such a horrible thing?? Beruntunglah kita, disaat-saat terberat dan terburuk yang kita alami, selalu ada orang-orang yang mencintai kita, keluarga, teman, sahabat, yang senantiasa mendukung dan menguatkan hati kita. If we just look around, there’s always things that make us realize about how lucky we are just to be alive. Seandainya mereka seperti kita, yang selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan kepada umat yang tidak mampu menanggungnya. Seandainya mereka seperti kita, yang selalu percaya pada janji sang Khalik bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan…

^_^

..............cracked...................

Ariel - Luna VS Everybody

Heboh pemberitaan video mesum mirip artis Ariel Peterpan, Luna Maya, serta Cut Tari menuai reaksi dari berbagai pihak. Saya bukannya mau ikut-ikutan, tapi rasanya gemas, kenapa baru sekarang hal ini menjadi sangat mengejutkan, seolah-olah setelah sekian lama, kita mendapatkan ikon-ikon yang pas untuk dihujat, dibenci, dicaci maki, dan disalah-salahkan, yaitu Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Mereka adalah objek yang sangat tepat untuk melampiaskan amarah dan kekesalan kita atas perilaku-perilaku asusila yang kerap kali dilakukan para public figure di negeri ini.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menutup mata ataupun berpura-pura tidak tahu bahwa kasus Ariel-Luna atau Ariel-Cut Tari adalah satu-satunya kasus asusila yang terjadi selama ini. Yang membuat saya heran adalah, ada apakah dengan Ariel dan Luna yang (diduga) melakukan adegan-adegan mesum itu sampai seluruh negeri geger karenanya, dan mereka mendapatkan hukuman moral dari masyarakat dengan sedemikian hebatnya?? Siapapun para pelaku dalam video itu, saya bukannya menganggap hal itu adalah wajar dilakukan, atau menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tetapi, setau saya yang sering nonton program infotainment (yang kabarnya keakuratan beritanya tidak boleh diragukan), ini bukanlah kasus perzinahan pertama yang dilakukan para selebriti kita. Ambilah satu contohnya, Sheila Marcia. Sheila yang saat itu tengah menghadapi kasus pemakaian narkoba yang menimpanya (menurut saya kasus ini pun merupakan contoh perilaku artis yang sama buruknya) tiba-tiba mengejutkan masyarakat dengan kehamilannya. Semua orang tahu bahwa Sheila bukanlah perempuan yang bersuami, bukan pula Siti Maryam yang suci. Tetapi saya tidak pernah mendengar berita bahwa Sheila dilaporkan seseorang ke pihak yang berwajib atas perzinahan yang telah dilakukannya. Juga tidak mendengar bahwa Anji Drive –sang ayah jabang bayi- dicekal saat manggung bersama dengan bandnya. Bahkan saya pernah melihat wawancara dengan Sheila (lagi-lagi di infotainment) bahwa Sheila telah kembali menjalani aktivitasnya di dunia hiburan. “Apalagi sekarang kan saya punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan puteri saya…” begitulah kata Sheila kira-kira. Pujian pun dilontarkan pada Sheila. Seorang perempuan yang masih muda, telah tumbuh menjadi dewasa dan menjadi ibu tunggal yang sangat bertanggung jawab pada puterinya. Lupa lah kita semua bahwa apa yang telah dilakukan Sheila dan Anji, di mata Tuhan sama berdosanya dengan apa yang dilakukan para pemeran video mesum mirip artis.

Contoh lain adalah Andi Soraya (yang nyata-nyata seorang WNI dan seorang muslim) dan Steve Immanuel, yang secara terang-terangan mengakui hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, sampai dikaruniai seorang putera. Setau saya (atau mungkin saya yang sok tau?) tak ada satu agama pun di negeri ini yang menghalalkan hal tersebut, walau atas nama cinta sekalipun. Tapi tidak pernah saya dengar ada ormas atau LSM mana pun yang berdemo di depan rumah mereka, ataupun masayarakat disekitar rumah mereka ingin mengusir mereka karena alasan perzinahan. Bahkan saya pernah melihat keduanya dalam acara (un)reality show tentang mencari pasangan di salah satu stasiun televisi swasta karena mereka telah “bercerai” dan ingin mencari pasangan hidup yang baru. Alangkah indah dan tenangnya hidup mereka.


Hal lain yang mengherankan saya adalah adanya pihak-pihak yang langsung melaporkan Ariel-Luna ke pihak yang berwajib sebagai pelaku adegan yang tidak senonoh. Mengherankan, karena kok sekarang tiba-tiba bisa seperti itu? Sewaktu seorang Moammar Emka menerbitkan bukunya yang berjudul Jakarta Undercover yang menghebohkan di tahun 2005, dimana isinya menceritakan tentang sisi lain dari kehidupan kalangan atas di Jakarta terutama perilaku seks mereka, yang juga dialami langsung oleh sang penulis, semua orang menyambut dengan antusias. Pujian demi pujian diterima Moammar Emka sebagai penulis yang sangat berani. Bahkan melanjutkan kesuksesan buku tersebut, film layar lebar pun dibuat dengan judul yang sama, “Jakarta Undercover” yang kebetulan dibintangi oleh Luna Maya. “Memberi suguhan yang berbeda, berani, dan sensasional,,,,,Banyak memberikan informasi yang mengejutkan……Dengan semangat perayaan seks dan seksualitas marilah kita sambut buku Moammar Emka…” itulah sebagian komentar yang dilontarkan bagi buku tersebut. Tidak pernah saya dengar berita atau komentar tentang “betapa moral anak bangsa telah rusak” dengan adanya kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku tersebut. Semua orang hanya mengangguk-angguk maklum, tidak berani berkomantar yang lain, mungkin takut dianggap tidak gaul, tidak bisa mengikuti keadaan zaman, atau lebih parah takut dianggap menhalangi kreativitas seseorang. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang berkomentar positif tentang video mirip Ariel – Luna. Misalnya : “Wow, adegan yang sangat berani…” Waduh, mau dikemanakan harga diri kita seandainya berkomentar seperti itu? Pun saya tidak pernah mendengar adanya pihak yang melaporkan para pelaku dalam buku tersebut ke pihak yang berwajib atas apa yang mereka lakukan. Tapi ini hal yang wajar karena siapa para pelaku tersebut hanya diketahui oleh Moammar Emka, si penulis buku (jadi mungkin disini kode etik antara penulis dengan narasumbernya jauh lebih penting daripada nilai moral itu sendiri). Jadi, kemana saja Farhat Abbas waktu itu ya?? Atau mungkin mereka tidak beranggapan bahwa sebuah buku (walaupun berdasarkan kisah nyata) atau seorang Sheila atau seorang Andi Soraya atau artis yang lain tidak akan mempengaruhi kehidupan generasi muda? Memang saat itu UU Pornografi ataupun ITE belum ada, tapi toh hukum agama selalu ada, tetapi ormas ataupun LSM yang mengatasnamakan norma hukum dan agama pun baru angkat bicara terhadap kasus ini saja.


Lantas apa sebenarnya yang membuat Ariel - Luna begitu dihujat dan dibenci?? Apakah bedanya (atau sialnya) apa yang (diduga) telah mereka lakukan terekspos ke media sehingga orang bisa melihat apa yang telah mereka lakukan?? Apakah karena orang-orang kesal karena video yang (diduga) adalah mereka tersebut ternyata membuat penontonnya merasa jengah? Atau orang-orang merasa resah karena tiba-tiba tersadar bahwa menonton hal tersebut pun sama berdosanya seperti memerankannya? Kalau itu masalahnya berarti yang harus disalahkan adalah orang yang menyebarkan video itu dong, karena siapapun yang membuat video tersebut, saya yakin mereka tidak bermaksud untuk menyebarkannya. Kalau tidak ada orang yang menyebarkannya, maka kehidupan Ariel - Luna pun akan sama tenang dan tentramnya sepert Sheila dan Andi Soraya. Pantaslah kalau Ariel dan Luna merasa kesal dan kerap mengakui bahwa mereka adalah “korban”. Mungkin itu memang benar, mereka korban pencurian video pribadi, atau korban pencemaran nama baik akibat tersebarnya hal yang paling privasi, atau korban fitnah jika para pelaku ternyata bukanlah mereka. Karena mungkin mereka pikir yang menjadi permasalahan adalah penyebarannya secara luas, bukan isi videonya, mengingat sederet kasus lain tentang (sebetulnya adalah) perzinahan seringkali diberitakan hanya sebagai kisah hidup seseorang semata.

Saya seorang muslim, yang mengerti betul hukum perzinahan. Saya bukanlah seseoarang yang membenarkan, apalagi membela apa yang dilakukan oleh pelaku video mesum tersebut. Saya hanya kasihan dengan nasib sial yang dialami Ariel – Luna akibat kasus ini. Dibenci, dihujat, didemo, diusir, dicekal, diputuskan kontrak kerja samanya, sementara seorang Maria Eva, yang juga pernah tersandung kasus yang sama dengan seorang anggota dewan yang bukan suaminya, memantapkan langkah kariernya di bidang politik dengan percaya diri maju sebagai calon bupati Sidoarjo. Bahkan kejadian yang menimpa seorang anak berumur 9 tahun di Surabaya yang mengalami kasus pelecehan seksual oleh temannya yang juga masih di bawah umur, disebut-sebut sebagai “korban video mesum mirip artis”. Lalu, kemana saja orang tua mereka saat anak-anaknya mengunduh, menyimpan, dan melihat video tersebut di ponselnya? Kemana saja para orang tua saat mereka melakukan perbuatan asusila tersebut? Semua itu menjadi tidak penting lagi. Salahkan saja para artis itu, seandainya mereka tidak melakukan itu mungkin anak-anak itu pun tidak akan menjadi korban.






Lalu mengapa para jurnalis sangat menggembar-gemborkan kasus Ariel – Luna? Bukankah karena berita tersebut tak henti-hentinya ditayangkan membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak melihat videonya jadi penasaran ingin melhatnya? Apakah mereka gemas karena kedua artis tersebut selalu bungkam sehingga mereka kesulitan mendapatkan berita? Apakah karena Sheila, Andi Soraya, dan public figure yang lain bersikap terbuka terhadap wartawan tentang dosa yang mereka lakukan sehingga mereka seolah-olah dimaafkan? Apakah sebuah kejujuran yang menyatakan “ya, benar, kami memang melakukannya” akan membebaskan pelaku dari jeratan hukum dan norma yang berlaku? Jika pada akhirnya terbukti bahwa Ariel – Luna adalah pelaku video tersebut, maka mereka benar-baenar menjadi tumbal yang sempurna bagi para selebritis lain yang melakukan hal serupa, tetapi tidak pernah ada yang menggugat. Mau tak mau kita harus mengakui bahwa kasus ini adalah kasus asusila yang dilakukan oleh public figure kita untuk yang kesekian puluh kalinya. Hanya saja, Ariel – Luna – Cut Tari adalah orang-orang yang mendapat kehormatan untuk dijadikan ikon kebobrokan moral tersebut. Saya tidak tahu bagaimana hukum melihat masalah ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa banyak kejadian seperti itu yang kemudian dianggap biasa oleh masyarakat karena beritanya tidak seheboh Ariel – Luna. Padahal seharusnya, baik di mata hukum maupun agama, perilaku itu pun sama salahnya. Semoga pihak yang berwajib menemukan solusi yang tepat bagi semua maslah ini.


^_^


ΪηδλЋ

AMI

Ini adalah salah satu cerita yg paling aq suka, yg aq tulis di diary aq bertaun-taun yang lalu...

*******

Ini cerita tentang temen sekelas gue. Namanya Ami. Menurut gue, Ami adalah orang yang punya segalanya. Dia cantik, pinter, ramah, disukai semua orang. She’s perfect. Gue sehari-hari nggak terlalu deket sama dia, tapi itu bukan karena gue nggak mau. Kadang gue suka minder. Kalo gue ngeliat dia, selalu timbul pertanyaan yang sama di benak gue : ‘kenapa gue nggak seberuntung dia?’ She seems to be everything and I seem to be nothing! Honestly, I always envy her for everything she’s got! Gue pasti bahagia banget kalo gue jadi Ami.


One day, gue sama temen-temen sekelas yang laen pergi ke rumah temen. Makan-makan, rujakan, curhat-curhatan, semacam girls’ party gitu deh. Di acara curhat, setiap orang harus ngebacain pendapat tentang dirinya yang di tulis sama orang lain. Dan gue pun ngebacain pendapat seorang temen tentang gue.

INDAH :
Baik, manis. Nggak deket sama dia, tapi sebenernya pengen, cos kayanya seneng punya temen kaya dia. Kalo gue ngeliat Indah, kadang gue suka pengen kaya dia. Selalu ceria, selalu ketawa, selalu dikelilingi sama temen-temennya yang baik. Hidupnya tenang, dan kayanya nggak punya beban. Kayanya nggak punya kekurangan. Dia selalu keliatan happy. Dan gue harap dia selalu baek-baek aja.


Well, that’s a good appraisal about me isn’t it? Tapi gue cuma ketawa dalam hati. Siapa yang pengen jadi gue sementara gue pengen jadi orang lain? Besoknya di kampus, Ami, nyapa gue dengan gayanya yang ceria, dan senyumnya yang manis.
“Hai, Indah….Lo tau nggak, kemaren pendapat yang lo bacain tentang diri lo, gue yang nulis…..”
Gue cuma melongo. Speechless, and amazed. Gue nggak percaya Ami punya pendapat kaya gitu tentang gue sementara gue selalu pengen jadi seperti dia. Dan gue mulai berpikir, kenapa gue selalu pengen jadi orang lain dan nggak pernah menyadari betapa beruntungnya gue selama ini? Lagian, di dunia ini nggak ada orang yang sempurna. Iya, kan? Ami emang hebat! Cuma satu kalimat yang dia ucapin ke gue hari itu, mampu bikin gue sadar bahwa selama ini gue kurang mensyukuri apa yang gue punya. Ami bener. Gue punya temen-temen yang baik. Gue punya Finon, Sari, Liliek, Ambar, Anto, Yoyo, Achmat, Sukron yang selalu merhatiin, ngejagain, dan nyayangin gue. Dan gue bahagia. Alhamdulillah, Thank you Allah, for this beautiful life and friendship that U give to me. And thank U Ami, for making me realize how happy my life can be….





Rabu, 02 Maret 2011

Almost 30


out the night that covers me
black as the pit from pole to pole
i thank God whatever may be
for my unconquerable soul
in the fell clutch of circumstance
i have not winced nor cried aloud
under the buldgeoning of fate
my head is bloddy but unbowed
looms but the horror of the shade
and yet the menace of the years
find and shall find me unafraid
it dosen't matter how strait the gate
how charge with punishment th scroll

i am the master of my fate
i am the captain of my soul



(invictus)