Jumat, 25 Maret 2011

Mahasiswa : Kini dan Nanti

Pusing, gemas, kesal, heran, bercampur jadi satu saat saya melihat berita tentang mahasiswa yang berunjuk rasa. Kenapa mereka begitu getol berunjuk rasa? Saya jadi ingat, mungkin mereka saat ini merasakan apa yang saya rasakan beberapa tahun lalu, ketika suatu peristiwa penting terjadi di negeri kita.

Pada bulan Mei 1998, kekuasaan Presiden Soeharto telah digulingkan oleh kekuatan rakyat, yang diwakili oleh puluhan ribu mahasiswa yang mengambil alih gedung DPR/MPR selama berhari-hari. Waktu itu, saya yang baru saja naik kelas 3 SMA, terkagum-kagum kepada para senior mahasiswa yang begitu gagah berani. Mereka berkumpul bersama bahu-membahu menjadi kekuatan rakyat. Tak peduli apapun warna jas almamater yang mereka kenakan, kuning, biru, merah, hijau, semua bersatu padu menuntut keadilan di muka bumi pertiwi. Dan ketika Presiden Soeharto membacakan pengunduran dirinya dari jabatan Presiden, saya merinding membayangkan luapan kegembiraan, helaan nafas lega, dan teriakan-teriakan penuh kemenangan dari para mahasiswa tersebut. Waktu itu, mahasiswa adalah pahlawan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setahun kemudian, bulan Juni 1999, saya pun menjadi mahasiswa. Perjuangan reformasi masih berlanjut. Unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa masih marak terjadi. Saya ingat betul, saya baru tiga bulan menjalani kuliah dan sedang menjalani masa orientasi mahasiswa ketika hal ini terjadi. Waktu itu saya sedang mewawancarai salah satu anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebagai salah satu tugas orientasi. Sebuah demo akbar akan dilaksanakan di Jakarta oleh gabungan mahasiswa seluruh Indonesia. Entah apa sebabnya saya lupa (kalau tidak salah karena larangan yang dikeluarkan oleh pihak Kampus), mahasiswa kampus saya tidak akan ikut ambil bagian dalam demo akbar tersebut. Akibatnya, Sekretariat BEM menerima paket gelap yang diduga kuat dikirim oleh mahasiswa lain (mungkin dari luar kampus) sebagai hadiah atas “kepengecutannya”. Paket tersebut berisi bangkai ayam dan baju dalam wanita. Kurang ajar betul! Saya tidak terlalu peduli pada bangkai ayamnya, tetapi baju dalam itu mengganggu saya. Kebanggaan saya akan sosok mahasiswa sedikit tercoreng. Ternyata para calon cendekia nan berani itu, para pejuang idealisme, menganggap kami para wanita sebagai lambang kepengecutan. Harga diri saya sebagai wanita merasa terusik dan saya tak lagi bersimpati terhadap mahasiswa yang berdemo.

Tetapi harapan masih selalu ada. Suatu hari ketika akan dilakukan lagi demo akbar oleh gabungan mahasiswa di Jakarta, saya dan beberapa orang teman pun bergabung. Kami menerima arahan-arahan dan juklak demo di lapangan. Sang mentor mengajarkan kami dengan sabar dan bersemangat. Menjelaskan tugas-tugas jenderal lapangan, koordinator lapangan, siapa bertanggung jawab kepada siapa, apa yang harus dilakukan apabila terpisah dari rombongan, harus bagaimana bila ada huru-hara, bila ada yang terluka, sampai sistem evakuasi yang efektif. Semua dipersiapkan dengan sangat mendetail. Anehnya penjelasan hanya seputar masalah teknis. Tidak ada penjelasan mengenai latar belakang, alasan, bukti dan fakta, yang mengharuskan kami melakukan kegiatan ini. Mungkin seperti halnya panggung politik, hal-hal besar seperti ini cukup diketahui oleh para elit mahasiswa. Sedangkan mahasiswa jelata seperti saya tak perlu mengerti, cukup dengan membawa spanduk-spanduk, dan berteriak dengan penuh semangat. Entah karena kami dianggap cukup pintar untuk membahas permasalahan tersebut dalam benak kami sendiri, atau kami tidak cukup penting. Atau mungkin saya saja yang bodoh. Sebenarnya alasan saya bergabung adalah karena saya sangat ingin tahu, kenapa harus memilih untuk berunjuk rasa. Tapi saya hanya bisa bungkam, tidak mampu mengalahkan euphoria perjuangan yang begitu mengebu-gebu. Sekali lagi saya kecewa dan batal ikut demo.

Kali lain saya mengenal salah seorang senior yang juga rajin berdemo. Bukan mahasiswa sembarangan, melainkan seorang Presiden BEM dari salah satu Fakultas di Kampus, juga anggota dari himpunan mahasiswa yang ternama di Indonesia. Dia adalah orang yang sangat idealis. Sosok mahasiswa dengan hati yang murni, berjuang demi bangsa dan negara. Persis seperti mahasiswa-mahasiswa dalam khayalan saya, mahasiswa Mei 1998 (saya lupa bertanya padanya, tapi saya hampir yakin dia adalah salah satu dari mahasiswa-mahasiswa tersebut). Saya pernah bertanya kepadanya, mengapa dia begitu bersemangat dalam hal unjuk mengunjuk rasa, memprotes dan menyalah-nyalahkan pemerintahan yang ada. Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa saya, mahasiswa baru, belum mengerti nikmatnya berjuang bagi reformasi. Sekarang, senior saya tersebut, telah mempunyai sebuah keluarga bahagia dan mengelola sebuah perusahaan agribisnis yang sukses, nun jauh di Jawa Timur sana. Tak lagi menyentuh sesuatu yang berbau politik, tak lagi mengendus aura perjuangan Mei 1998, dan tak lagi peduli terhadap keadaan negeri yang carut marut ini,. Rupanya dia telah mengerti nikmatnya hidup tanpa memikirkan perjuangan dan reformasi.

Kembali ke masa kini, kepada mahasiswa masa kini. Saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat mereka berunjuk rasa di televisi, berteriak-teriak atas nama rakyat, menilai pemerintah telah gagal dan menginginkan mereka secepatnya mundur dari jabatannya. Mari kita berandai-andai. Seandainya tuntutan mereka dipenuhi (mungkin karena kuping pemerintah sudah panas mendengar teriakan mereka), misalnya SBY mundur, lalu apa yang akan mereka lakukan? Siapkah mereka dengan apa yang terjadi selanjutnya? Mungkin, seperti saya, mereka juga terkenang-kenang peristiwa Mei 1998, saat seseorang yang sudah berkuasa selama 32 tahun akhirnya dikalahkan oleh kekuatan rakyat. Mungkin mereka mengharapkan hal yang sama. Tapi itu kan tidak mungkin. Sekarang situasi dan kondisinya sudah berbeda. Masalah yang dihadapi pun tak lagi sama.

Di Negara tetangga kita, Filipina, kejadian serupa juga pernah terjadi. Pada masa kekuasaan Presiden Ferdinand Marcos, seorang Benigno Aquino memutuskan untuk pulang dari pengasingannya di AS untuk melawan kediktatoran sang Presiden. Tetapi Benigno terbunuh ketika baru sampai di bandara Manila. Rakyat pun emosi. Berbondong-bondong mereka turun ke jalan. Pemerintahan Ferdinand Marcos tak mampu lagi membendung kemarahan rakyatnya, sehingga menyerah dan meninggalkan Filipina. Persis seperti yang terjadi di Indonesia, Mei 1998. Bedanya, di Filipina, sepeninggal Ferdinand Marcos, rakyatnya hanya mengusung satu nama untuk ditetapkan sebagai Presiden yaitu Corazon (Corry) Aquino, istri dari Benigno Aquino. Maka dengan dukungan penuh dari rakyatnya, Corry maju dan menjabat sebagai Presiden dengan langkah yang mantap. Dengan memiliki rakyat Filipina di belakangnya, Corry tidak gentar oleh berbagai gangguan, termasuk ancaman kudeta militer yang terjadi hingga berkali-kali. Walaupun suaminya telah ditembak sampai mati, tetapi Presiden Corry tetap teguh memegang amanat rakyatnya, membuang jauh-jauh kepentingan pribadinya untuk membalaskan sakit hati kepada pihak –pihak yang telah menindasnya selama berthaun-tahun. Kepentingan rakyatnya selalu menjadi yang utama. Di sisi lain, Presiden Cory juga telah berhasil untuk menahan gelombang kekuatan rakyat yang dahsyat itu, sehingga tidak berlarut-larut. Batasan-batasan demokrasi dan kebebasan berpendapat di kawal dengan ketat. Tidak dibiarkannya kekuatan rakyat itu kembali ke jalanan, segala keinginan dan aspirasi rakyat dibimbing kembali ke tempat yang seharusnya, dan ditindaklanjuti dengan dengan baik. Pasti Presiden Corry tahu betul, bahwa kekuatan rakyat kalau dibiarkan akan menjadi mengerikan, dan bisa membuyarkan konsentrasinya membenahi Negara.

Unjuk rasa, aksi damai, demonstrasi, atau apapun namanya, adalah sesuatu yang wajar. Dikatakan wajar apabila dilakukan dalam batasan-batasan yang masuk akal. Dengan tuntutan yang masuk akal, yang tidak membuat orang kehilangan rasa simpatik. Akan tetapi, di negara kita, setelah peristiwa Mei 1998 yang mengharukan itu, unjuk rasa menjadi semacam budaya. Semua ide, gagasan, aspirasi, dan penilaian masyarakat, tumpah ruah di jalanan. Mungkin karena kita tidak punya satu sosok seperti Corry Aquino, yang diberi kepercayaan penuh oleh seluruh rakyat. Saat itu Pak Habibie sebagai Wakil Presiden secara otomatis menggantikan Soeharto, sebelum kemudian dilakukan pemilihan Presiden yang baru. Kemudian terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden pertama era reformasi. Itu pun setelah menyaring beberapa calon, bukan calon tunggal yang telah dipilih oleh rakyat. Maka pihak-pihak yang tidak puas menjadi resah. Gejolak bukan hanya terjadi di kalangan rakyat tetapi juga di kalangan elit politik. Sebaliknya, karena rakyat memang tidak pernah menyebut satu nama yang diinginkan, terjadilah krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Yang ini salah yang itu salah. Yang ini tidak becus yang itu tidak becus. Si ini seharusnya mundur, si itu seharusnya mundur. Ini tidak pas itu tidak pas. Mereka kembali turun ke jalan, berharap kesuksesan peristiwa Mei 1998 akan kembali terulang. Tentu saja rakyat dalam hal ini, sebagian besar diwakili oleh mahasiswa-mahasiswa yang cemerlang. Atau paling tidak, rakyat di pelosok daerah juga mencontoh ulah para mahasiswa dalam menuntut keinginannya terhadap pemerintah. Bahkan bukan hanya di Ibu Kota, rakyat yang merasa tidak puas dengan pemimpinnya : Gubernur, Walikota/Bupati, Camat, Lurah mungkin juga sampai RW atau RT, segara turun ke jalan, menghimpun kekuatan rakyat untuk menyampaikan kekecewaannya (biasanya dengan langsung menuntut mundur si pemimpin). Setiap terjadi permasalahan atau satu peristiwa apapun bentuknya: korupsi, bencana alam, wabah penyakit, pengangkatan pejabat, kunjungan Presiden, peringatan hari besar, semua hal diwarnai oleh unjuk rasa mahasiswa. Sepertinya mereka tak pernah bisa menemukan cara lain yang lebih bermartabat selain berunjuk rasa.

Pernah saya bertanya kepada seorang rekan mahasiswa dan beberapa orang temannya yang masih sering turun ke jalan (memang ini tidak bisa mewakili populasi mahasiswa seluruhnya, tetapi bagi saya yang hanya memuaskan rasa ingin tahu, ini sudah cukup) sebenarnya, jika mereka menuntut seseorang, misalnya seorang SBY untuk mundur, siapa sih yang mereka siapkan sebagai calon pengganti? Mereka menjawab (dengan alasan bahwa mahasiswa adalah pihak yang independen dan tidak memihak) : Siapa saja, yang penting jujur dan mendahulukan kepentingan rakyat. Saya bertanya lagi : Iya, seperti siapa misalnya? Mereka menjawab lagi : Seseorang yang mau mendahulukan kepentingan rakyat di atas segalanya. Jujur, dan benar-benar bisa di percaya untuk mengemban amanat rakyat. Yang adil dan tegas! Jangan yang omong doang kayak pemerintah sekarang! Saya bertanya lagi : Iya, ada nggak kira-kira? Siapa dia? Kalau kamu nggak tau siapa, mana mungkin kamu sanggup mendukungnya? Salah-salah baru setahun menjabat, kamu tuntut dia buat mundur lagi…Mereka menjawab (kali ini dengan kesal) : Siapa saja, kalo perlu rakyat biasa juga boleh! U-uh, lagi-lagi saya dikecewakan mahasiswa yang suka berunjuk rasa. Ternyata mereka hanya ingin menurunkan, tak ingin menaikkan. Hanya bisa bongkar, tak bisa pasang.

Tak jarang unjuk rasa pun berujung dengan kekerasan. Merusak kantor-kantor pemerintahan, fasilitas-fasilitas umum, atau kendaraan-kendaraan pemerintah (padahal kantor-kantor dan fasilitas-fasilitas itu dibangun dengan uang rakyat yang mereka bela!). Terkadang jatuh korban baik dari pihak mahasiswa maupun pihak aparat kemanan. Kalau sudah begini, siapa mau bertanggung jawab? Ruas-ruas jalan dipenuhi massa, jalan dialihkan dan macet dimana-mana. Bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru. Tapi mungkin bagi mereka, inilah yang namanya pengorbanan. Belum lagi sisa-sisa kekacauan yang mereka tinggalkan begitu saja di jalanan. Bayangkan betapa kacaunya jalanan dengan berbagai macam sampah : bekas minuman, bekas pembarakaran benda-benda (biasanya paling tidak membakar ban bekas atau poster-poster), tisu, dan masih banyak lagi. Tentunya tukang sampah harus bekerja ekstra keras esok hari. Kembali rakyat kecil yang menanggung akibatnya.

Satu hal yang positif dari para mahasiswa yang getol berunjuk rasa adalah kecepatan dan kekuatan mereka untuk menghimpun massa. Tidak jarang satu kali acara unjuk rasa diikuti oleh ribuan anggota. Dan dengan intensitas yang cukup sering. Dengan kekuatan sebesar itu mungkin sebenarnya mereka mampu untuk mendukung pemerintah yang ada dalam menjalankan program–programnya dengan melakukan sesuatu yang konkrit. Bukan hanya melihat dan menunggu, lalu satu tahun kemudian beramai-ramai turun ke jalan dan meminta sang pemimpin untuk mundur. Pernahkah terpikir oleh mereka untuk secara rutin berkumpul dan mengerahkan massa sebanyak-banyaknya, lalu beramai-ramai membersihkan Jakarta ataupun kota lainnya? Bukankah ini juga bentuk kepedulian terhadap bangsa dan sesama? Mungkin banjir akibat luapan sungai yang penuh sampah akan berkurang. Atau beramai-ramai membantu korban bencana alam di tempat pengungsian. Jika segerombolan besar mahasiswa dapat menggulingkan Soeharto -setelah 32 tahun mencengkram Indonesia- dalam waktu beberapa hari, maka sebenarnya mereka pun dapat mengawal Presiden terpilih -siapa pun itu- untuk dapat menjalankan amanat rakyat. Pada akhirnya kita kembali pada pepatah lama “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Menyalahkan bukanlah solusi. Berbuatlah sesuatu yang signifikan, mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Mungkin ini terdengar klise, tapi kata-kata “satu hal kecil dapat mengubah dunia” itu benar adanya. Bayangkan jika satu orang mahasiswa memungut sampah dan memasukkannya ke tempat sampah setiap kali melihat sampah yang tercecer, mungkin negera kita akan bebas dari sampah yang berceceran. Membantu penghijauan dan berhenti merokok akan mengurangi pemanasan global. Tidak meninggalkan tv dan computer menyala terus di kamar kos bila tidak digunakan, untuk menghemat listrik supaya TDL tidak naik terus. Tidak memberikan “uang damai” pada polisi saat ditilang berarti menentang adanya kolusi, tidak melakukan aksi vandalisme pada fasilitas-fasilitas yang berasal dari uang rakyat. Berhenti menjadi konsumen pasar gelap dan barang bajakan juga akan sangat menguntungkan bagi Negara. Ribut sana sini meminta kenaikan dana subsidi pendidikan, tetapi yang ada saja belum dimanfaatkan dengan baik. Alih-alih rajin belajar malah seringnya cabut kuliah dan nongkrong di mal, atau lebih parah lagi, tawuran dengan sesama mahasiswa (salah satu perilaku negatif yang juga menjamur di kalangan pelajar). Saya akui mungkin ini hanya sinisme saya saja yang kehilangan rasa simpati kepada mahasiswa yang suka berunujk rasa. Dan saya tidak adil karena menggeneralisasi mereka. Tapi kan masuk akal juga kalau kekuatan mereka digunakan untuk mendukung pemerintah. Think globally act locally! Berbuatlah sesuatu, itu yang penting. Bukan hanya mau menjadi pahlawan di depan rakyat dengan berkoar-koar di bawah terik matahari yang menghitamkan kulit, tetapi malu dan gengsi menjadi “patriot” yang sebenarnya.

Marilah kita menempatkan diri pada koridor yang seharusnya. Pemerintah sudah cukup diawasi, dinilai, dan disalahkan, oleh berbagai elemen masyarakat. Para ahli, para pengamat, pers, pengacara, dan bahkan di kalangan mereka sendiri mereka saling mengawasi, saling menilai dan akhirnya saling menyalahkan. Mahasiswa kembalilah ke identitas yang sebenarnya, mempersiapkan diri menjadi generasi yang kelak akan membangun bangsa ini, dan bisa menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Right man on the right place, sehingga negeri ini tidak terus menerus kacau karena ditangani oleh orang-orang yang bukan ahlinya, orang-orang yang gagal (ini kata mereka sendiri, loh!). Para orang tua yang bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi tentulah tak ingin anaknya berakhir di rumah sakit, atau di penjara, gara-gara tertangkap dan dituduh jadi provokator saat berunjuk rasa. Simpanlah semangat dan gelora idealisme sampai negeri ini benar-benar membutuhkannya. Suatu hari nanti, sejarah mahasiswa-mahasiswa ini akan terulang. Seperti yang terjadi pada mahasiswa seniorku itu. Ketika para mahasiswa pengunjuk rasa telah lulus dan meninggalkan kampus, mereka yang tidak terjun ke dunia politik hanya akan mengenang peristiwa tersebut sebagai kegiatan yang membanggakan, tanpa benar-benar merasakan adanya efek pada hidup mereka dari apa yang telah mereka lakukan itu. Buktinya, setelah 12 tahun berlalu sejak Mei 1998, keadaan negeri kita tak kunjung membaik. Kalaupun banyak dari mereka yang telah mencapai kesuksesan dan kemapanan, dalam karier misalnya, tentu itu bukan karena dulu mereka rajin berunjuk rasa kan? Dan bagi mereka yang benar-benar terjun ke dunia politik, pasti merasa sebal melihat mahasiswa-mahasiswa generasi berikutnya yang tak henti-hentinya memprotes kebijakan ini itu, sambil berkata dalam hati : huh, emangnya gampang ngurus negara?!


^_^

ΪηδλЋ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar