Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menutup mata ataupun berpura-pura tidak tahu bahwa kasus Ariel-Luna atau Ariel-Cut Tari adalah satu-satunya kasus asusila yang terjadi selama ini. Yang membuat saya heran adalah, ada apakah dengan Ariel dan Luna yang (diduga) melakukan adegan-adegan mesum itu sampai seluruh negeri geger karenanya, dan mereka mendapatkan hukuman moral dari masyarakat dengan sedemikian hebatnya?? Siapapun para pelaku dalam video itu, saya bukannya menganggap hal itu adalah wajar dilakukan, atau menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tetapi, setau saya yang sering nonton program infotainment (yang kabarnya keakuratan beritanya tidak boleh diragukan), ini bukanlah kasus perzinahan pertama yang dilakukan para selebriti kita. Ambilah satu contohnya, Sheila Marcia. Sheila yang saat itu tengah menghadapi kasus pemakaian narkoba yang menimpanya (menurut saya kasus ini pun merupakan contoh perilaku artis yang sama buruknya) tiba-tiba mengejutkan masyarakat dengan kehamilannya. Semua orang tahu bahwa Sheila bukanlah perempuan yang bersuami, bukan pula Siti Maryam yang suci. Tetapi saya tidak pernah mendengar berita bahwa Sheila dilaporkan seseorang ke pihak yang berwajib atas perzinahan yang telah dilakukannya. Juga tidak mendengar bahwa Anji Drive –sang ayah jabang bayi- dicekal saat manggung bersama dengan bandnya. Bahkan saya pernah melihat wawancara dengan Sheila (lagi-lagi di infotainment) bahwa Sheila telah kembali menjalani aktivitasnya di dunia hiburan. “Apalagi sekarang kan saya punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan puteri saya…” begitulah kata Sheila kira-kira. Pujian pun dilontarkan pada Sheila. Seorang perempuan yang masih muda, telah tumbuh menjadi dewasa dan menjadi ibu tunggal yang sangat bertanggung jawab pada puterinya. Lupa lah kita semua bahwa apa yang telah dilakukan Sheila dan Anji, di mata Tuhan sama berdosanya dengan apa yang dilakukan para pemeran video mesum mirip artis.
Contoh lain adalah Andi Soraya (yang nyata-nyata seorang WNI dan seorang muslim) dan Steve Immanuel, yang secara terang-terangan mengakui hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, sampai dikaruniai seorang putera. Setau saya (atau mungkin saya yang sok tau?) tak ada satu agama pun di negeri ini yang menghalalkan hal tersebut, walau atas nama cinta sekalipun. Tapi tidak pernah saya dengar ada ormas atau LSM mana pun yang berdemo di depan rumah mereka, ataupun masayarakat disekitar rumah mereka ingin mengusir mereka karena alasan perzinahan. Bahkan saya pernah melihat keduanya dalam acara (un)reality show tentang mencari pasangan di salah satu stasiun televisi swasta karena mereka telah “bercerai” dan ingin mencari pasangan hidup yang baru. Alangkah indah dan tenangnya hidup mereka.
Hal lain yang mengherankan saya adalah adanya pihak-pihak yang langsung melaporkan Ariel-Luna ke pihak yang berwajib sebagai pelaku adegan yang tidak senonoh. Mengherankan, karena kok sekarang tiba-tiba bisa seperti itu? Sewaktu seorang Moammar Emka menerbitkan bukunya yang berjudul Jakarta Undercover yang menghebohkan di tahun 2005, dimana isinya menceritakan tentang sisi lain dari kehidupan kalangan atas di Jakarta terutama perilaku seks mereka, yang juga dialami langsung oleh sang penulis, semua orang menyambut dengan antusias. Pujian demi pujian diterima Moammar Emka sebagai penulis yang sangat berani. Bahkan melanjutkan kesuksesan buku tersebut, film layar lebar pun dibuat dengan judul yang sama, “Jakarta Undercover” yang kebetulan dibintangi oleh Luna Maya. “Memberi suguhan yang berbeda, berani, dan sensasional,,,,,Banyak memberikan informasi yang mengejutkan……Dengan semangat perayaan seks dan seksualitas marilah kita sambut buku Moammar Emka…” itulah sebagian komentar yang dilontarkan bagi buku tersebut. Tidak pernah saya dengar berita atau komentar tentang “betapa moral anak bangsa telah rusak” dengan adanya kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku tersebut. Semua orang hanya mengangguk-angguk maklum, tidak berani berkomantar yang lain, mungkin takut dianggap tidak gaul, tidak bisa mengikuti keadaan zaman, atau lebih parah takut dianggap menhalangi kreativitas seseorang. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang berkomentar positif tentang video mirip Ariel – Luna. Misalnya : “Wow, adegan yang sangat berani…” Waduh, mau dikemanakan harga diri kita seandainya berkomentar seperti itu? Pun saya tidak pernah mendengar adanya pihak yang melaporkan para pelaku dalam buku tersebut ke pihak yang berwajib atas apa yang mereka lakukan. Tapi ini hal yang wajar karena siapa para pelaku tersebut hanya diketahui oleh Moammar Emka, si penulis buku (jadi mungkin disini kode etik antara penulis dengan narasumbernya jauh lebih penting daripada nilai moral itu sendiri). Jadi, kemana saja Farhat Abbas waktu itu ya?? Atau mungkin mereka tidak beranggapan bahwa sebuah buku (walaupun berdasarkan kisah nyata) atau seorang Sheila atau seorang Andi Soraya atau artis yang lain tidak akan mempengaruhi kehidupan generasi muda? Memang saat itu UU Pornografi ataupun ITE belum ada, tapi toh hukum agama selalu ada, tetapi ormas ataupun LSM yang mengatasnamakan norma hukum dan agama pun baru angkat bicara terhadap kasus ini saja.
Lantas apa sebenarnya yang membuat Ariel - Luna begitu dihujat dan dibenci?? Apakah bedanya (atau sialnya) apa yang (diduga) telah mereka lakukan terekspos ke media sehingga orang bisa melihat apa yang telah mereka lakukan?? Apakah karena orang-orang kesal karena video yang (diduga) adalah mereka tersebut ternyata membuat penontonnya merasa jengah? Atau orang-orang merasa resah karena tiba-tiba tersadar bahwa menonton hal tersebut pun sama berdosanya seperti memerankannya? Kalau itu masalahnya berarti yang harus disalahkan adalah orang yang menyebarkan video itu dong, karena siapapun yang membuat video tersebut, saya yakin mereka tidak bermaksud untuk menyebarkannya. Kalau tidak ada orang yang menyebarkannya, maka kehidupan Ariel - Luna pun akan sama tenang dan tentramnya sepert Sheila dan Andi Soraya. Pantaslah kalau Ariel dan Luna merasa kesal dan kerap mengakui bahwa mereka adalah “korban”. Mungkin itu memang benar, mereka korban pencurian video pribadi, atau korban pencemaran nama baik akibat tersebarnya hal yang paling privasi, atau korban fitnah jika para pelaku ternyata bukanlah mereka. Karena mungkin mereka pikir yang menjadi permasalahan adalah penyebarannya secara luas, bukan isi videonya, mengingat sederet kasus lain tentang (sebetulnya adalah) perzinahan seringkali diberitakan hanya sebagai kisah hidup seseorang semata.
Saya seorang muslim, yang mengerti betul hukum perzinahan. Saya bukanlah seseoarang yang membenarkan, apalagi membela apa yang dilakukan oleh pelaku video mesum tersebut. Saya hanya kasihan dengan nasib sial yang dialami Ariel – Luna akibat kasus ini. Dibenci, dihujat, didemo, diusir, dicekal, diputuskan kontrak kerja samanya, sementara seorang Maria Eva, yang juga pernah tersandung kasus yang sama dengan seorang anggota dewan yang bukan suaminya, memantapkan langkah kariernya di bidang politik dengan percaya diri maju sebagai calon bupati Sidoarjo. Bahkan kejadian yang menimpa seorang anak berumur 9 tahun di Surabaya yang mengalami kasus pelecehan seksual oleh temannya yang juga masih di bawah umur, disebut-sebut sebagai “korban video mesum mirip artis”. Lalu, kemana saja orang tua mereka saat anak-anaknya mengunduh, menyimpan, dan melihat video tersebut di ponselnya? Kemana saja para orang tua saat mereka melakukan perbuatan asusila tersebut? Semua itu menjadi tidak penting lagi. Salahkan saja para artis itu, seandainya mereka tidak melakukan itu mungkin anak-anak itu pun tidak akan menjadi korban.
Lalu mengapa para jurnalis sangat menggembar-gemborkan kasus Ariel – Luna? Bukankah karena berita tersebut tak henti-hentinya ditayangkan membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak melihat videonya jadi penasaran ingin melhatnya? Apakah mereka gemas karena kedua artis tersebut selalu bungkam sehingga mereka kesulitan mendapatkan berita? Apakah karena Sheila, Andi Soraya, dan public figure yang lain bersikap terbuka terhadap wartawan tentang dosa yang mereka lakukan sehingga mereka seolah-olah dimaafkan? Apakah sebuah kejujuran yang menyatakan “ya, benar, kami memang melakukannya” akan membebaskan pelaku dari jeratan hukum dan norma yang berlaku? Jika pada akhirnya terbukti bahwa Ariel – Luna adalah pelaku video tersebut, maka mereka benar-baenar menjadi tumbal yang sempurna bagi para selebritis lain yang melakukan hal serupa, tetapi tidak pernah ada yang menggugat. Mau tak mau kita harus mengakui bahwa kasus ini adalah kasus asusila yang dilakukan oleh public figure kita untuk yang kesekian puluh kalinya. Hanya saja, Ariel – Luna – Cut Tari adalah orang-orang yang mendapat kehormatan untuk dijadikan ikon kebobrokan moral tersebut. Saya tidak tahu bagaimana hukum melihat masalah ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa banyak kejadian seperti itu yang kemudian dianggap biasa oleh masyarakat karena beritanya tidak seheboh Ariel – Luna. Padahal seharusnya, baik di mata hukum maupun agama, perilaku itu pun sama salahnya. Semoga pihak yang berwajib menemukan solusi yang tepat bagi semua maslah ini.
^_^
ΪηδλЋ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar