Jumat, 25 Maret 2011

Profesional Worker


Seorang TKW bernama Suminar bercerita dalam perjalanan pulang menuju Indonesia dari Riyadh, Arab Saudi. Ia telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama 4 tahun. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia pulang ke tanah air. Bersamanya ia membawa uang hasil jerih payahnya sebanyak setengah dari jumlah seluruh gajinya selama 4 tahun (setengah lainnya telah ia kirimkan kepada keluarga di tanah air). Selain gaji sesuai dengan kesepakatan yang selalu di bayar tepat waktu, nyonya rumah juga memberikan seperangkat perhiasan emas untuknya sebagai bonus, serta beberapa potong pakaian baru untuk oleh-oleh keluarganya. Sang tuan juga membelikan Suminar tiket ke Jakarta, dengan maskapai penerbangan terbaik di Indonesia, untuk menjamin Suminar tiba di rumah dengan selamat. Suminar adalah satu dari sedikit TKW yang bernasib mujur mendapatkan majikan yang cukup baik dan memperlakukannya secara professional.

“Alhamdululilah saya tak pernah disiksa, atau diperlakukan secara tidak manusiawi,” celoteh Suminar. “Kalau dimarahi atau dibentak-bentak sih, sudah biasa. Tapi saya tidak pernah sakit hati, toh saya tidak mengerti bahasa mereka.”

Suminar hanya lulus waijb belajar sembilan tahun. Ia tidak bisa berbahasa Inggris, juga bahasa Arab. Komunikasi dengan majikan ia lakukan dengan “bahasa isyarat”. Bekalnya menjadi TKW adalah tekad yang bulat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Tugasnya sebagai pembantu rumah tangga adalah mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, dan memasak. Suminar berusaha memuaskan majikannya dengan bekerja sebaik mungkin. Semua tugas dilakukannya selagi sang majikan tidur dan saat majikan pergi ke kantor dan anak-anaknya ke sekolah. Pada saat mereka ada di rumah, Suminar menyembunyikan dirinya di dapur, tidak menampakkan diri kecuali sang majikan memanggil. Dengan demikian, menurut Suminar, tidak ada alasan bagi sang majikan untuk memarahinya karena ia sudah melakukan semua tugas dengan baik. Masuk akal, mengingat selama bekerja sebagai TKW Suminar mendapatkan hak-haknya, dan pulang ke tanah air dengan selamat. Boleh jadi sang majikan puas dengan pelayanannya, dan dapat dikatakan ia seorang pembantu rumah tangga yang professional, walaupun dengan segala keterbatasannya.

Seorang Pramugari cantik menghampari Suminar dan menawarkan minuman. Namanya Adelia. Tubuhnya tinggi semampai, rambutnya coklat mengilat, jari-jarinya lentik dan terawat, tak seperti jari-jari Suminar yang pecah-pecah. Suminar memandang Adelia dengan jengah dan menolak tawarannya.

“Teh manis, barangkali?” Adelia kembali menawarkan dengan senyumnya yang manis.

“Iya, terimakasih.” Jawab Suminar malu-malu. “Biar nanti saya bikin sendiri,” katanya.

“Tidak usah, nanti diantar,” Adelia bergegas ke pantry mengambilkan segelas teh manis untuk Suminar.

Suminar memandang Adelia dengan penuh kekaguman.

“Waah…baik sekali dia,” Kata Suminar. “Ramah banget, ya? Padahal saya cuman TKW.”

“Memang kenapa kalau TKW?” Aku bertanya. “Kan kamu juga penumpang?”

Lalu Suminar bercerita bahwa dia, sebagai seseorang kampung yang tidak berpendidikan, sudah terbiasa dengan segala kekerasan, prasangka, ataupupun ketidakramahan yang ditujukan padanya. Sebelum menjadi TKW, Suminar telah beberapa kali menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Menurutnya, kadang ada saja orang yang memperlakukan dia dengan kasar, tidak sopan ataupun merendahkan, karena dia hanya seorang pembantu. Suminar hanya tahu kewajibannya adalah mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, dan memasak. Dan haknya adalah mendapatkan gaji. Lain itu, dia tidak tahu. Karenanya dia hanya bisa menerima saja kalau ada orang yang memperlakukan dia dengan tidak adil, atau melecehkan harga dirinya, karena dia hanya seorang pembantu. Dan ketika Suminar pergi menjadi TKW, ia sudah menyiapkan fisik dan mentalnya untuk diperlakukan seperti itu, walaupun –syukurlah- itu tidak terjadi. Suminar sangat bersyukur dengan semua yang ia terima, karena banyak teman-temannya yang sama-sama mengadu nasib ke Arab Saudi, tidak seberuntung dirinya.

“Jangankan untuk pulang dan membawa oleh-oleh, untuk menghubungi keluarga saja susah. Temen-temen saya banyak yang tidak beruntung. Seringkali mereka dapat majikan yang suka menyiksa, dan mereka tidak bisa pulang ke Indonesia,” katanya.

“Loh, kan ada agen yang mengirim kalian kesana?” Tanyaku. “Memangnya mereka tidak menolong?”

“Untuk bisa segera dikirim saja susah. Dan harus bayar mahal,” Jawab Suminar. “Kalau sudah di sana ya sudah. Tidak terlantar dan dapat pekerjaan pun sudah untung.”

Adelia datang membawakan teh manis. Suminar terlihat takjub dengan keramahan dan kebaikan hati Adelia. Suminar tidak tahu bahwa Adelia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pramugari secara profesional. Adelia menjalankan apa yang diperintahkan perusahaan kepadanya, yaitu mengutamakan kepuasan pelanggan. Customer satisfaction. Siapaun dia, bahkan seorang gelandangan pun, jika telah membayar tiket dan duduk di kursi penumpang, Adelia akan melayaninya seperti ia melayani seorang raja. Itu adalah kewajibannya dan Adelia memang telah diajari untuk seperti itu. Di sisi lain, Adelia juga telah diajari bagaimana melindungi hak-haknya, melindungi martabat dan harga dirinya sebagai seorang perempuan, sehingga walaupun ia harus melayani, ia tidak akan menerima pelecehan ataupun kekerasan.

Suminar tidak tahu arti profesionalisme. Ia hanya mengerti melayani, bukan dilayani. Ia tidak menyadari, bahwa apa yang telah dilakukannya pada keluarga majikannya, sebanding dengan apa yang telah dilakukan Adelia kepadanya. Tetapi Suminar tidak tahu, karena ia tidak pernah diberi tahu, tidak pernah diajari, bahwa sebagai seorang pekerja dan seorang perempuan, ia mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan Adelia. Ia telah menjalankan kewajibannya, dan pantas mendapatkan haknya. Suminar hanya tahu bahwa mungkin jika ia tidak beruntung di Arab sana, ia akan mendapatkan perlakuan yang kasar, atau disakiti, bahkan mungkin pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Dan ia telah mempersiapkan diri untuk menerima hal-hal mengerikan itu (walaupun dalam kasus Suminar, ternyata hal itu tidak terjadi). Tidak seperti Adelia yang telah diajari bagaimana harus bertindak bila ia mengalami pelecehan atau kekerasan. Dan Suminar tidak menyadari, bahwa apa yang ia dapatkan sekarang bukanlah suatu keberuntungan, melainkan hasil dari kerja kerasnya yang profesional sebagai pembantu rumah tangga.

Hatiku jadi terenyuh sekaligus miris melihat Suminar begitu menciut dan rendah diri di balik keanggunan Adelia. Betapa ironisnya kedua perempuan itu. Padahal keduanya sama-sama telah bersikap profesional dalam menjalankan profesinya. Adelia mempersiapkan dirinya untuk mencegah perlakuan-perlakuan buruk kepada dirinya. Sebaliknya, Suminar mempersiapkan dirinya untuk menerima perlakuan-perlakuan buruk kepada dirinya. Adelia menerima pengarahan dan pendidikan yang baik dari perusahaannya, walaupun ia hanya menemani dan melayani pelanggan-pelanggan perusahaannya selama perjalanan saja. Dan tentunya apabila terjadi hal-hal yang tidak seharusnya pada Adelia, maka perusahaannya akan -dengan segenap hati- melindunginya. Tetapi bagaimana mungkin perusahaan yang telah memperkerjakan dan mengirim Suminar sejauh itu dari negerinya, selama bertahun-tahun, tidak mengajari dia bagaimana membela diri dan membela hak-haknya sebagai seorang pegawai? Tak heran banyak sekali TKW yang bernasib malang dan menyedihkan. Perusahaan Adelia dan perusahaan Suminar memang jelas berbeda. Berbeda jenis usahanya, tingkat profesionalitasnya, SOP nya, termasuk tingkat intelektual pimpinan maupun karyawannya. Tapi ini bukan masalah intelektual. Ini masalah hati nurani.




^_^

ΪηδλЋ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar