Ada yang berbeda dengan negeri kita akhir-akhir ini. Pekikan-pekikan “Indonesia” atau “Garuda” tiba-tiba saja menggema di seluruh penjuru tanah air, padahal Hari Kemerdekaan telah lewat berbulan-bulan. Penyebabnya apalagi kalau bukan keberhasilan Timnas Sepak bola kita di ajang Piala AFF 2010? Walaupun harus menelan pil pahit setelah ditaklukan Timnas Malaysia “The Lasercheaters” 3-0 minggu malam lalu, kita harus mengakui bahwa penampilan Tim Garuda baru-baru ini memberi warna baru pada persepakbolaan nasional. Kekompakan wajah-wajah baru di Timnas seperti Irfan Bachdim dan El Loco Gonzales dengan senior-seniornya, membuahkan hasil yang menggembirakan. Satu demi satu kemenangan di raih, dan dunia persepakbolaan Indonesia seperti terbangun dari tidur yang panjang. Antusiasme pecinta sepak bola tanah air membludak. Semangat nasionalisme tiba-tiba membumbung tinggi, apalagi dengan kenyataan bahwa kita harus manghadapi “sahabat dekat” kita, Malaysia, maka pertarungan ini bagi rakyat Indonesia bukan hanya mencari gelar juara, tetapi juga ajang pembelaan harga diri. Sungguh merupakan suatu tugas yang sangat berat yang dipikul oleh Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.
Euforia ini menunjukkan satu hal yang sangat jelas bagi kita. Bahwa ternyata satu ajang sepak bola mampu menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Tak heran kalau rakyat-rakyat Brazil, Argentina, Spanyol, Jerman, merasa sangat bangga terhadap negaranya. Salah satunya adalah karena Timnas mereka merajai persepakbolaan dunia. Bahkan Jepang, sebagai salah satu negara yang tingkat nasionalisme rakyatnya paling tinggi, semakin percaya diri setelah Timnas sepak bola mereka lolos Piala Dunia tahun 2002. Maka rasanya seperti sia-sia menjalani upacara bendera setiap hari senin selama 12 tahun, karena ternyata, rasa nasionalisme tidak tumbuh melalui cara seperti itu.
Seandainya saja pemerintah kita melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Nelson Mandela pada awal-awal tahun pemerintahannya, mungkin sekarang rakyat kita selalu rukun dan dipenuhi rasa kebanggaan terhadap bangsa dan negara, Negara kita mungkin semaju Jepang, dan Timnas Sepak bola kita sehebat Brazil. -FYI, saya mengetahui hal ini bukan karena rajin membaca sejarah, tapi karena rajin noton film-film nya Matt Damon, xixi…- Ketika terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan pada tahun 1994, Mandela dihadapkan pada isu rasisme dan apartheid yang sangat kental. Ia lalu berusaha menemukan suatu cara agar seluruh rakyat Afrika Selatan, yang hitam dan yang putih, bersatu padu dengannya untuk membangun Afrika Selatan yang lebih baik. Dan itu tidaklah mudah, karena dalam istana kepresidenannya sendiri, warna kulit menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Tetapi kemudian Mandela menemukan solusi sederhana untuk semuanya itu : Rugby. Olahraga Rugby pada waktu itu, adalah simbol rasisme di Afrika Selatan. Karena rugby bukanlah olahraga yang populer di kalangan kulit hitam, sebagaimana sepak bola yang tidak popular di kalangan kulit putih. Anggota Timnas Rugby Afrika Selatan, Springbooks, hampir seluruhnya berkulit putih, kecuali satu orang, Chester Williams. Mereka yang berkulit hitam tidak pernah menyukai Springbook, apalagi mendukungnya. Tetapi tidak demikian dengan Mandela. Ia memandang Springbook sebagai jalan keluar bagi masalah terberat di negaranya yaitu perbedaan warna kulit.
Ketika Afrika Selatan didaulat menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby tahun 1995, Mandela membulatkan tekadnya untuk mempersatukan “rakyat dwiwarna” nya melalui Springbook. Ia mengundang Kapten Tim Springbook, Franscois Pienaar, ke Istana Kepresidenan dan secara terang-terangan memberitahukan niatnya, yaitu mempersatukan rakyat Afrika Selatan dengan cara menjadikan Springbook sebagai Juara Dunia Rugby 1995. Pienaar yang tertimpa beban seberat itu, tidak berkata lain selain menyanggupinya. Akan tetapi Mendela tidak membiarkan Pienaar dkk berjuang sendirian. Dengan segala kekuasaan yang ia miliki sebagai seorang Presiden, Mandela dengan segenap hati membantu dan melakukan apapun yang dapat mendukung perjuangan Tim Springbook untuk menjadi juara Piala Dunia. Misalnya dengan tidak membiarkan ANC, partai politik yang didirikannya, mengganti pemain-pemain Springbook oleh pemain kulit hitam dan tidak mengganti nama “Springbook” dengan nama yang “lebih Afrika”. Dan ia selalu menyempatkan diri menonton setiap pertandingan untuk membuktikan kesungguhannya dalam mendukung Tim Springbook. Semua itu tidak mudah ia lalui. Cemoohan demi cemoohan ia terima, dan isu bahwa Presiden Mandela akan lebih membela kepentingan rakyat kulit putih pun terus bergulir, tapi Mandela bersikukuh pada pendiriannya.
Sungguh ajaib, niat Mandela berhasil. Satu per satu pertandingan dimenangkan oleh Springbook. Perlahan-lahan rakyat Afrika mulai antusias terhadap Timnas rugby tersebut. Dukungan demi dukungan mulai mengalir. Dan akhirnya, ketika Springbook berhadapan dengan Tim Rugby Selandia Baru di Stadion Ellis Park, ribuan warga Afrika Selatan, yang hitam dan yang putih, bersatu padu mendukung mereka, mengenakan baju yang sama, baju Timnas Springbook, dan meneriakkan kata yang sama “Bokke” (nama pendek untuk Springbook). Dengan doa dari jutaan warganya yang menonton lewat TV, akhirnya Timnas Afrika Selatan, Springbook, untuk pertama kalinya berhasil menjadi Juara Dunia Rugby 1995. Dan dampaknya sangat luar biasa: dunia mengenang momen itu sebagai “Rasisme di titik Nol” karena pada hari itu, melalui Springbook, Mandela berhasil memperlihatkan pada dunia, bahwa tidak ada lagi rasisme di Afrika Selatan.
Ketika menyerahkan piala juara kepada sang kapten, Mandela berkata, “ Terima kasih Francois, atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” tetapi Francois Pienaar dengan segenap hati mengatakan, “ Tidak Pak Presiden, terima kasih atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” Dan semua warga Afrika Selatan merayakan kemenangan itu. Fenomena ‘menjadi juara baru’ ini agak mirip dengan yang terjadi di Indonesia sekarang bukan? Jadi, kebayang nggak, kalau Indonesia menjadi juara di ajang sepak bola, entah itu AFF ataupun ajang yang lebih besar, mungkin rakyat kita akan sangat mencintai sesamanya dan juga negerinya. Seandainya hal itu terjadi di Indonesia, dan Pak SBY menyerahkan piala juara dan berkata kepada kapten Timnas, “Terima kasih Firman, atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” dan kemudian Firman berkata “ Tidak Pak SBY, terima kasih atas apa yang telah kau lakukan untuk negeri ini,” mungkin kita yang melihatnya akan menangis karena haru. Pertanyaanya, apakah pemerintah kita berjuang sekeras Mandela untuk mendukung Timnas Sepakbola kita?? Entahlah….Yang jelas, prestasi yang diperlihatkan Firman Utina dan timnya baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka adalah para pemain yang berpotensi untuk jadi juara. Dan untuk menjadi juara, mereka membutuhkan dukungan dari seseorang yang berani mempertaruhkan segalanya, seperti Mandela, demi mendukung kemajuan para pemain sepak bola Indonesia, demi rasa nasionalisme, dan demi harga diri negara kita. Semoga di final Leg kedua nanti Indonesia bisa membalas dendam pada Malaysia, tetapi, kalah atau menang, bagiku mereka tetap juara…
♥

Tidak ada komentar:
Posting Komentar